Penyusun : Khadijah
Pendahuluan
Sepuluh Menit Mandi, Dua Jam Mengaji : Manajemen Waktu Ala Santri. Kehidupan di pesantren dikenal dengan kedisiplinan waktu yang sangat ketat. Ungkapan “sepuluh menit mandi, dua jam mengaji” bukan sekadar pepatah, melainkan cerminan nyata dari sistem manajemen waktu yang telah teruji selama berabad-abad di dunia pesantren. Di era modern yang serba cepat ini, banyak orang mengalami kesulitan dalam mengelola waktu, sementara santri telah mempraktikkan disiplin waktu yang efektif sejak dini (Dhofier, 2019).
Konsep manajemen waktu dalam Islam memiliki landasan yang kuat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian” (QS. Al-‘Asr: 1-2)
Ayat ini menegaskan pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Waktu bagaikan pedang, jika engkau tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu” (Al-Ghazali, 2015). Petuah ini menunjukkan bahwa pengelolaan waktu bukan pilihan, melainkan keharusan bagi setiap Muslim yang ingin meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Penelitian menunjukkan bahwa manajemen waktu yang baik berkorelasi positif dengan prestasi akademik dan kesejahteraan psikologis (Claessens et al., 2007). Sistem pesantren telah menerapkan prinsip-prinsip ini jauh sebelum kajian ilmiah modern mengonfirmasinya. Artikel ini akan mengupas bagaimana santri mengelola waktu dengan efisien, mulai dari aktivitas sederhana seperti mandi hingga ibadah kompleks seperti mengaji, serta relevansinya bagi kehidupan kontemporer.
Filosofi Manajemen Waktu Santri
Manajemen waktu ala santri dibangun atas prinsip bahwa setiap detik adalah amanah dari Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan…” (HR. At-Tirmidzi, Shahih)
Hadits ini menjadi fondasi mengapa santri sangat menghargai waktu. Setiap aktivitas dirancang dengan tujuan yang jelas dan batas waktu yang tegas (Mastuhu, 2019).
Prinsip "Sepuluh Menit Mandi"
Ungkapan “sepuluh menit mandi” melambangkan efisiensi dalam aktivitas rutin. Di pesantren, santri diajarkan untuk menyelesaikan kebutuhan pribadi dengan cepat tanpa mengorbankan kebersihan. Prinsip ini mengajarkan beberapa hal:
Prioritas yang jelas:
Santri memahami bahwa waktu untuk mandi adalah waktu persiapan, bukan waktu rekreasi. Ini sejalan dengan konsep time management yang menekankan pada distinction between urgent and important tasks (Covey, 2013).
Disiplin diri
Kemampuan membatasi diri dalam aktivitas yang menyenangkan menunjukkan pengendalian diri yang tinggi, sebuah kualitas yang dalam Islam disebut mujahadah an-nafs (perjuangan melawan hawa nafsu).
Kesadaran kolektif
Di pesantren dengan fasilitas terbatas, efisiensi waktu mandi juga berarti memberi kesempatan kepada santri lain, mengajarkan nilai sosial dan empati (Arifin, 2018).
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang dapat membatasi waktu untuk aktivitas rutin memiliki lebih banyak waktu untuk aktivitas produktif (Britton & Tesser, 1991). Santri menerapkan prinsip ini sejak usia muda, membentuk kebiasaan yang bertahan seumur hidup.
Prinsip "Dua Jam Mengaji
Jika “sepuluh menit mandi” adalah tentang efisiensi, maka “dua jam mengaji” adalah tentang fokus mendalam. Pengajian di pesantren bukan sekadar membaca teks, melainkan proses pembelajaran komprehensif yang melibatkan
Tilawah (pembacaan)
Membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar memerlukan konsentrasi penuh. Studi neurosains menunjukkan bahwa konsentrasi mendalam dapat meningkatkan retensi memori dan pemahaman (Goleman, 2013).
Tahfidz (menghafal)
Proses menghafal Al-Qur’an melatih kemampuan kognitif dan disiplin mental. Penelitian membuktikan bahwa hafalan terstruktur meningkatkan neuroplastisitas otak (Maguire et al., 2003).
Ta'lim (pembelajaran kitab)
Santri belajar kitab kuning dengan metode sorogan dan bandongan, mengembangkan kemampuan analisis dan critical thinking (Bruinessen, 2015).
Mudzakarah (diskusi)
Diskusi antar santri mengasah kemampuan argumentasi dan pemahaman mendalam terhadap materi.
Alokasi waktu dua jam untuk mengaji menunjukkan bahwa aktivitas berkualitas tinggi memerlukan komitmen waktu yang memadai. Ini bertentangan dengan multitasking yang sering dipromosikan dalam budaya modern, yang justru terbukti menurunkan produktivitas (Ophir et al., 2009).
Struktur ini menunjukkan beberapa prinsip manajemen waktu yang solid:
Struktur ini menunjukkan beberapa prinsip manajemen waktu yang solid:
Time blocking: Setiap aktivitas memiliki slot waktu yang jelas (Newport, 2016). Ini mengurangi decision fatigue dan meningkatkan konsistensi.
Ritme sirkadian: Jadwal santri selaras dengan ritme biologis tubuh, memaksimalkan energi di pagi hari untuk pembelajaran intensif (Walker, 2017).
Balanced life: Meski padat, jadwal mencakup waktu untuk ibadah, belajar, istirahat, dan sosialisasi, menciptakan kehidupan yang seimbang.
Relevansi untuk Kehidupan Modern
Prinsip manajemen waktu santri sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern:
Bagi profesional: Membatasi waktu meeting seperti “sepuluh menit mandi” dapat meningkatkan efisiensi. Alokasi waktu untuk deep work seperti “dua jam mengaji” dapat meningkatkan kualitas output (Newport, 2016).
Bagi pelajar: Mengadopsi jadwal terstruktur dapat meningkatkan prestasi akademik dan mengurangi prokrastinasi (Steel, 2007).
Bagi keluarga: Menetapkan waktu berkualitas untuk berkumpul keluarga, seperti santri yang konsisten mengikuti pembelajaran komunal, dapat memperkuat ikatan keluarga.
Ulama kontemporer seperti Syaikh Muhammad Al-Ghazali menegaskan bahwa Muslim modern harus menggabungkan disiplin waktu dengan teknologi untuk mencapai kemajuan tanpa kehilangan spiritualitas (Al-Ghazali, 2015).
Tantangan dan Solusi
Menerapkan manajemen waktu ala santri di luar pesantren menghadapi beberapa tantangan:
Distraksi digital: Media sosial dan gadget menjadi pengganggu utama. Solusinya adalah menerapkan “digital sunset” seperti santri yang tidak menggunakan gadget saat pembelajaran (Price, 2018).
Kurangnya struktur eksternal: Tanpa pengawasan kyai dan jadwal pesantren, diperlukan self-discipline yang kuat. Membuat accountability partner atau bergabung dengan komunitas dapat membantu (Clear, 2018).
Konflik dengan budaya kerja modern: Budaya lembur dan “hustle culture” bertentangan dengan prinsip keseimbangan santri. Perlu keberanian untuk menetapkan boundaries dan prioritas (Burkeman, 2021).
Kesimpulan
Ungkapan “sepuluh menit mandi, dua jam mengaji” merangkum esensi manajemen waktu ala santri: efisiensi dalam hal-hal rutin, fokus mendalam pada hal-hal penting. Sistem ini dibangun atas fondasi teologis yang kuat, didukung oleh struktur komunal pesantren, dan telah terbukti menghasilkan individu-individu yang produktif dan berkarakter.
Di tengah krisis manajemen waktu masyarakat modern, kearifan pesantren menawarkan solusi yang holistik. Bukan sekadar teknik produktivitas, tetapi filosofi hidup yang menempatkan waktu sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Seperti yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali, “Siapa yang menyia-nyiakan waktunya hari ini, ia akan menyesalinya di hari esok” (Al-Ghazali, 2015).
Menerapkan prinsip-prinsip ini tidak berarti harus masuk pesantren. Dimulai dengan langkah kecil: batasi waktu untuk aktivitas rutin, alokasikan waktu berkualitas untuk hal penting, dan konsisten dengan jadwal harian. Sebagaimana santri membuktikan bahwa dengan disiplin sederhana namun konsisten, prestasi luar biasa dapat diraih.
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (QS. Asy-Syarh: 7-8)
Ayat ini mengajarkan bahwa optimalisasi waktu adalah bentuk ibadah, dan produktivitas sejati adalah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, M. (2015). Ihya Ulumuddin. Jakarta: Pustaka Azzam.
Arifin, I. (2018). Kepemimpinan kyai dalam perubahan manajemen pondok pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 7(2), 123-139.
Britton, B. K., & Tesser, A. (1991). Effects of time-management practices on college grades. Journal of Educational Psychology, 83(3), 405-410.
Bruinessen, M. V. (2015). Kitab kuning, pesantren, dan tarekat. Yogyakarta: Gading Publishing.
Burkeman, O. (2021). Four thousand weeks: Time management for mortals. New York: Farrar, Straus and Giroux.
Claessens, B. J., Van Eerde, W., Rutte, C. G., & Roe, R. A. (2007). A review of the time management literature. Personnel Review, 36(2), 255-276.
Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. New York: Avery.
Covey, S. R. (2013). The 7 habits of highly effective people: Powerful lessons in personal change (25th anniversary ed.). New York: Simon & Schuster.
Dhofier, Z. (2019). Tradisi pesantren: Studi pandangan hidup kyai dan visinya mengenai masa depan Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Goleman, D. (2013). Focus: The hidden driver of excellence. New York: Harper.
Maguire, E. A., Valentine, E. R., Wilding, J. M., & Kapur, N. (2003). Routes to remembering: The brains behind superior memory. Nature Neuroscience, 6(1), 90-95.
Mastuhu. (2019). Dinamika sistem pendidikan pesantren. Jakarta: INIS.
Newport, C. (2016). Deep work: Rules for focused success in a distracted world. New York: Grand Central Publishing.
Ophir, E., Nass, C., & Wagner, A. D. (2009). Cognitive control in media multitaskers. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(37), 15583-15587.
Price, C. (2018). How to break up with your phone. New York: Ten Speed Press.
Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65-94.
Walker, M. (2017). Why we sleep: Unlocking the power of sleep and dreams. New York: Scribner.


