Sejarah Ilmu Shorof: Asal-Usul dan Perkembangannya dalam Tradisi Keilmuan Islam

Share Tulisan

Penyusun: Reza Taufik Ilham

Pendahuluan

Ilmu shorof (الصَّرْف) atau morfologi bahasa Arab merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat penting dalam memahami struktur dan pembentukan kata dalam bahasa Arab. Secara etimologi, kata “shorof” berasal dari akar kata صَرَفَ – يَصْرِفُ yang bermakna “mengubah” atau “membolak-balikkan”. Adapun secara terminologi, ilmu shorof adalah ilmu yang membahas tentang perubahan bentuk kata dari satu bentuk ke bentuk lainnya untuk mencapai makna yang dikehendaki (Al-Ghalayini, 1994).

Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, ilmu shorof memiliki posisi strategis karena menjadi kunci untuk memahami Al-Qur’an dan hadis dengan benar. Allah SWT berfirman:

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti” (QS. Yusuf: 2).

Ayat ini menunjukkan pentingnya memahami bahasa Arab secara mendalam, termasuk aspek shorof, untuk dapat memahami kandungan Al-Qur’an dengan baik. Oleh karena itu, mengetahui sejarah perkembangan ilmu shorof menjadi penting untuk mengapresiasi warisan keilmuan Islam dan memahami metodologi pembelajaran yang efektif.

Latar Belakang Munculnya Ilmu Shorof

Ilmu shorof tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan peradaban Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, orang Arab fasih berbahasa Arab secara alami (fithrah) tanpa memerlukan kaidah-kaidah gramatikal yang tertulis. Mereka memahami perubahan bentuk kata dan makna-maknanya secara intuitif karena bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka (Al-Hasyimi, 1999).

Namun seiring dengan meluasnya wilayah Islam ke berbagai daerah non-Arab pada abad pertama dan kedua Hijriyah, mulai terjadi percampuran antara orang Arab asli dengan non-Arab (mawali). Kondisi ini menyebabkan munculnya fenomena lahn (kesalahan berbahasa) dalam pengucapan dan pemahaman bahasa Arab, bahkan dalam pembacaan Al-Qur’an. Kekhawatiran akan rusaknya kemurnian bahasa Arab dan pemahaman terhadap Nash-nash agama mendorong para ulama untuk melakukan kodifikasi kaidah-kaidah bahasa Arab (Dahdah, 2003).

Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan sebagai orang pertama yang meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu melalui Abu al-Aswad al-Du’ali. Dalam perkembangannya, para ulama menyadari bahwa pemahaman tentang perubahan bentuk kata (tashrif) sama pentingnya dengan pemahaman tentang susunan kalimat (nahwu). Hal ini melahirkan ilmu shorof sebagai disiplin tersendiri yang fokus pada morfologi kata-kata bahasa Arab.

Hubungan Ilmu Shorof dengan Ilmu Nahwu

Ilmu shorof dan ilmu nahwu memiliki keterkaitan yang sangat erat, hingga para ulama menyebutnya sebagai “dua sisi mata uang” dalam pembelajaran bahasa Arab. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam memahami struktur bahasa Arab secara komprehensif (Musthafa, 2007).

Para ulama merumuskan hubungan keduanya dengan ungkapan klasik:

النَّحْوُ أَبُو الْعُلُومِ وَالصَّرْفُ أُمُّهَا

“Nahwu adalah bapak dari segala ilmu, dan shorof adalah ibunya.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki peran fundamental dalam memahami bahasa Arab. Perbedaan keduanya terletak pada fokus kajian: ilmu shorof membahas struktur internal kata (bina’ al-kalimah) dan perubahan-perubahannya, sedangkan ilmu nahwu membahas posisi kata dalam kalimat dan i’rabnya (Al-Hamid, 2001).

Imam Ahmad bin Faris menegaskan pentingnya menguasai shorof sebelum nahwu dengan pernyataannya:

التَّصْرِيْفُ أَمُّ النَّحْوِ كَمَا قِيْلَ، وَمَنْ فَاتَهُ عِلْمُ التَّصْرِيْفِ فَاتَهُ عِلْمُ كَثِيْرٌ

“Tashrif adalah ibu dari nahwu sebagaimana dikatakan, dan barangsiapa yang luput dari ilmu tashrif, maka luputlah darinya ilmu yang banyak” (Ibn Faris, 1997).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang perubahan bentuk kata merupakan fondasi sebelum mempelajari susunan kalimat. Seorang yang menguasai shorof akan lebih mudah memahami nahwu karena telah memiliki pemahaman yang kuat tentang struktur kata-kata yang akan disusun dalam kalimat.

Tokoh-Tokoh Penting dalam Pengembangan Ilmu Shorof

Perkembangan ilmu shorof tidak lepas dari kontribusi para ulama besar yang mendedikasikan hidupnya untuk mengkodifikasi dan mengembangkan disiplin ilmu ini:

  • Mu’adz bin Muslim al-Harra’ (w. 187 H)

Mu’adz bin Muslim al-Harra’ dianggap sebagai pelopor kodifikasi ilmu shorof. Ia adalah seorang ulama Bashrah yang hidup pada abad kedua Hijriyah. Al-Harra’ adalah orang pertama yang menyusun kaidah-kaidah shorof secara sistematis dan memisahkannya dari ilmu nahwu sebagai disiplin tersendiri (Al-Zubaidi, 1984). Karyanya menjadi dasar bagi pengembangan ilmu shorof pada generasi-generasi berikutnya.

  • Abu Utsman al-Mazini (w. 249 H)

Abu Utsman Bakr bin Muhammad al-Mazini adalah ulama dari madzhab Bashrah yang memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ilmu shorof. Karyanya yang terkenal, “Kitab al-Tashrif”, menjadi rujukan penting dalam kajian morfologi Arab. Al-Mazini mengembangkan teori-teori tentang pembentukan kata dan wazan (pola kata) yang masih digunakan hingga sekarang (Al-Suyuthi, 1998).

  • Abu al-Qasim al-Zajjaji (w. 337 H)

Al-Zajjaji adalah ulama Baghdad yang menulis berbagai karya penting dalam ilmu bahasa Arab. Dalam bidang shorof, ia menulis “al-‘Irudh fi al-Tashrif” yang membahas kaidah-kaidah tashrif secara detail dan sistematis. Al-Zajjaji juga menulis karya metodologis tentang ilmu bahasa Arab yang mencakup pembahasan tentang posisi dan urgensi ilmu shorof (Al-Zajjaji, 1986).

  • Ibnu al-Hajib (w. 646 H)

Jamal al-Din Utsman bin Umar bin Abi Bakr, yang dikenal dengan Ibnu al-Hajib, adalah ulama Malikiyah yang menulis “al-Shafiyah fi ‘Ilm al-Tashrif”. Kitab ini menjadi salah satu referensi utama dalam pembelajaran shorof di pesantren-pesantren hingga sekarang. Metode penyajiannya yang ringkas namun komprehensif membuatnya sangat populer di kalangan pelajar (Ibn al-Hajib, 1995).

  • Ibnu Malik (w. 672 H)

Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Tha’i al-Andalusi, penulis nazham terkenal “Alfiyah Ibn Malik”, juga menulis “Lamiyah al-Af’al” khusus membahas shorof dalam bentuk syair yang mudah dihafal. Kontribusinya sangat besar dalam mempermudah pembelajaran shorof melalui metode nazham (Al-Anbari, 2000).

  • Ibnu al-Jazari (w. 833 H)

Meskipun lebih dikenal dalam bidang qira’at, Ibnu al-Jazari juga memberikan kontribusi penting dalam ilmu shorof, terutama kaitannya dengan perubahan kata dalam berbagai qira’at Al-Qur’an. Pendekatan interdisiplinernya menunjukkan keterkaitan antara shorof dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya (Ibn al-Jazari, 1999).

Para tokoh ini tidak hanya menulis karya-karya monumental, tetapi juga mengembangkan metodologi pengajaran yang efektif. Mereka menyusun materi dari yang mudah ke yang sulit, menggunakan contoh-contoh dari Al-Qur’an dan syair Arab klasik, serta membuat sistematika yang memudahkan pemahaman.

Perkembangan Ilmu Shorof Kontemporer

Pada era modern, ilmu shorof terus berkembang dengan munculnya berbagai pendekatan baru dalam pengajaran. Para ulama kontemporer seperti Musthafa al-Ghalayini dengan karyanya “Jami’ al-Durus al-‘Arabiyah” dan Abbas Hasan dengan “al-Nahw al-Wafi” telah mengintegrasikan pembelajaran shorof dengan nahwu dalam format yang lebih praktis dan aplikatif (Hasan, 1975).

Perkembangan teknologi juga membawa dampak positif bagi pembelajaran shorof. Berbagai aplikasi digital, software analisis morfologi Arab, dan platform pembelajaran online membuat ilmu shorof lebih mudah diakses oleh pelajar di seluruh dunia. Namun demikian, metodologi klasik yang diajarkan oleh para ulama terdahulu tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

Kesimpulan

Sejarah ilmu shorof mencerminkan keseriusan ulama Islam dalam menjaga kemurnian bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dan hadis. Munculnya ilmu ini didorong oleh kebutuhan praktis untuk melindungi bahasa Arab dari kesalahan (lahn) akibat percampuran dengan bahasa-bahasa lain seiring perluasan Islam.

Hubungan erat antara ilmu shorof dan nahwu menunjukkan bahwa keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami bahasa Arab secara komprehensif. Ilmu shorof membahas struktur internal kata, sementara nahwu membahas posisi kata dalam kalimat, dan keduanya saling melengkapi.

Kontribusi para tokoh seperti Mu’adz al-Harra’, Abu Utsman al-Mazini, Ibnu al-Hajib, dan Ibnu Malik telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan ilmu shorof. Karya-karya mereka masih menjadi rujukan utama dalam pembelajaran bahasa Arab hingga saat ini, baik di Timur Tengah maupun di berbagai negara Muslim lainnya termasuk Indonesia.

Bagi para pelajar dan pengajar bahasa Arab, memahami sejarah ilmu shorof bukan hanya memberikan perspektif historis, tetapi juga apresiasi terhadap metodologi pembelajaran yang telah terbukti efektif selama berabad-abad. Di era modern, integrasi antara metodologi klasik dengan teknologi pembelajaran akan terus mengembangkan ilmu shorof agar tetap relevan dan mudah dipahami oleh generasi masa depan.

Daftar Pustaka

Al-Anbari, A. (2000). Nuzhat al-alibba’ fi tabaqat al-udaba’. Yordania: Maktabah al-Manar.

Al-Ghalayini, M. (1994). Jami’ al-durus al-‘arabiyah (Jilid 1-3). Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.

Al-Hamid, M. (2001). Muhadarat fi al-lughah wa al-nahw. Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi.

Al-Hasyimi, A. (1999). Al-Qawa’id al-asasiyyah li al-lughah al-‘arabiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Suyuthi, J. (1998). Al-Muzhir fi ‘ulum al-lughah wa anwa’iha (Jilid 1-2). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Zajjaji, A. (1986). Al-Idhah fi ‘ilal al-nahw. Beirut: Dar al-Nafa’is.

Al-Zubaidi, M. (1984). Tabaqat al-nahwiyyin wa al-lughawiyyin. Kairo: Dar al-Ma’arif.

Dahdah, A. (2003). Mu’jam qawa’id al-lughah al-‘arabiyyah. Beirut: Maktabah Lubnan Nashirun.

Hasan, A. (1975). Al-Nahw al-wafi (Jilid 1-4). Kairo: Dar al-Ma’arif.

Ibn al-Hajib, U. (1995). Al-Shafiyah fi ‘ilm al-tashrif. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ibn al-Jazari, M. (1999). Ghayat al-nihayah fi tabaqat al-qurra’. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ibn Faris, A. (1997). Al-Sahibi fi fiqh al-lughah al-‘arabiyyah wa masa’iliha wa sunan al-‘arab fi kalamiha. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Musthafa, I. (2007). Ihya’ al-nahw. Kairo: Maktabah al-Adab.


Share Tulisan
Scroll to Top