Penyusun : Ineukeu Lara Duta, S.Pd
Pendahuluan
Anak usia dini merupakan fase emas (golden age) dalam perkembangan manusia, di mana
kemampuan otak dalam menyerap informasi berada pada tingkat optimal. Para ahli
perkembangan anak menyatakan bahwa pengalaman awal sangat menentukan struktur kognitif,
emosional, dan moral individu di masa depan (Santrock, 2019). Dalam konteks pendidikan
Islam, masa ini menjadi peluang strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an
melalui pengenalan tahfidz sejak dini.
Tahfidz Al-Qur’an pada anak usia dini tidak bertujuan mengejar kuantitas hafalan semata,
melainkan membangun hubungan emosional yang positif dengan Al-Qur’an. Allah Swt.
berfirman:
رِكَّدُم ْ نِم ْ لَهَ ف ِ رْكِ ذلِل َ نآ ْرُقْ لا اَن ْرَّسَي ْ دَقَل َو
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang
mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan untuk dipelajari oleh siapa pun,
termasuk anak-anak. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat, menyenangkan, dan sesuai
dengan dunia anak menjadi kunci keberhasilan program tahfidz pada usia dini.
Urgensi Mengenalkan Tahfidz Sejak Anak Usia Dini
Mengenalkan tahfidz sejak dini memiliki dasar kuat baik secara syar’i maupun
ilmiah. Rasulullah ﷺ bersabda:
ِ
هِمَدَو ِ هِمْحَل ِ ب ُ نآ ْرُقْ لا َ طَلَت ْخا ٌّ باَش َ وُهَو َ نآ ْرُقْ لا َ أ َرَ ق ْ نَم
“Barang siapa membaca Al-Qur’an sejak masa muda, maka Al-Qur’an akan
menyatu dengan daging dan darahnya.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini menunjukkan bahwa interaksi dini dengan Al-Qur’an akan membentuk
kepribadian yang kokoh dan melekat kuat dalam diri anak. Dari perspektif psikologi, anak
usia dini memiliki daya ingat jangka panjang yang kuat, terutama terhadap bunyi, irama,
dan pengulangan (Ericsson, 2018). Oleh karena itu, tahfidz yang dikemas secara tepat akan
menjadi stimulasi positif bagi perkembangan otak dan bahasa anak.
Prinsip Dasar Tahfidz untuk Anak Usia Dini
Tahfidz untuk anak usia dini harus berpijak pada prinsip pedagogi anak, bukan
pendekatan orang dewasa. An-Nahlawi (1995) menekankan bahwa pendidikan Islam harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan peserta didik. Prinsip-prinsip utama tersebut
meliputi:
• Bermain sambil belajar
• Tanpa paksaan dan tekanan
• Bertahap (tadarruj)
• Mengutamakan cinta sebelum target hafalan
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menegaskan bahwa pendidikan anak
harus dimulai dengan membiasakan kebaikan secara lembut agar tertanam kuat dalam
jiwanya.
Metode Tahfidz Al-Qur’an yang Menyenangkan
Agar anak menikmati proses tahfidz, berikut beberapa metode yang terbukti efektif
dan menyenangkan:
a. Metode Talaqqi dan Takrir dengan Irama
Guru membacakan ayat dengan tartil dan irama sederhana, lalu anak menirukan
secara berulang. Irama membantu anak mengingat dengan lebih cepat karena
melibatkan aspek auditori dan emosi.
b. Metode Gerak dan Isyarat
Menghafal ayat sambil menggunakan gerakan tangan atau tubuh sesuai makna
ayat membantu anak memahami dan mengingat hafalan dengan lebih baik.
c. Metode Lagu dan Nada Anak
Surat-surat pendek dikemas dalam nada ceria yang sesuai dunia anak.
Pendekatan ini meningkatkan motivasi dan membuat proses menghafal terasa seperti
bermain.
d. Metode Visual dan Media Edukatif
Penggunaan kartu ayat, gambar ilustrasi, dan video animasi islami membantu
anak mengenali ayat secara visual dan kontekstual.
e. Metode Penguatan Positif (Reward)
Pujian, stiker, atau pelukan memberikan rasa percaya diri dan menumbuhkan
motivasi intrinsik anak tanpa ketergantungan pada hadiah material.
Peran Guru dan Orang Tua dalam Tahfidz Anak
Keberhasilan tahfidz anak usia dini sangat dipengaruhi oleh keteladanan dan sinergi
antara guru dan orang tua. Allah Swt. berfirman:
ا ًراَن ْ مُكيِلْهَ أ َو ْ مُكَسُفن َ أ اوُ ق اوُنَمآ َ نيِذَّلا اَهُّي َ أ اَي
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar
menyenangkan, sementara orang tua menjadi pendamping utama yang memperkuat
hafalan di rumah. Konsistensi muraja’ah ringan setiap hari jauh lebih efektif daripada
hafalan dalam jumlah besar namun tidak berkelanjutan.
Dampak Tahfidz Menyenangkan terhadap Pembentukan Karakter Anak
Tahfidz Al-Qur’an yang dilakukan dengan metode menyenangkan memberikan
dampak signifikan terhadap karakter anak, antara lain:
• terbentuknya kecintaan pada Al-Qur’an,
• meningkatnya kesabaran dan kedisiplinan,
• perkembangan bahasa dan konsentrasi,
• kestabilan emosi dan akhlak mulia.
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang terpapar pendidikan berbasis nilai
spiritual sejak dini memiliki kemampuan regulasi diri dan empati yang lebih baik (Berk,
2020).
Kesimpulan
Mengenalkan tahfidz Al-Qur’an pada anak usia dini merupakan investasi jangka panjang
dalam pembentukan generasi Qur’ani. Dengan metode yang menyenangkan, lembut, dan
sesuai dunia anak, tahfidz tidak menjadi beban, melainkan pengalaman bermakna yang
menumbuhkan cinta terhadap Al-Qur’an. Sinergi antara guru yang kompeten dan orang tua
yang konsisten menjadi kunci utama keberhasilan. Tahfidz yang dilakukan dengan pendekatan
tepat tidak hanya menguatkan hafalan, tetapi juga membentuk karakter, kecerdasan, dan
spiritualitas anak secara holistik.
Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘Ulumuddin. Dar al-Fikr.
An-Nahlawi, A. (1995). Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyah. Dar al-Fikr.
Al-Baihaqi, A. (2003). Syu’ab al-Iman. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Berk, L. E. (2020). Development Through the Lifespan (7th ed.). Pearson Education.
Ericsson, K. A. (2018). Peak: Secrets from the New Science of Expertise. Mariner Books.
Santrock, J. W. (2019). Child Development (15th ed.). McGraw-Hill Education.
Al-Qur’an al-Karim.


