Penyusun : Tazkiyatun Nisaa
PENDAHULUAN
Mengatasi Homesick. Homesick atau kerinduan terhadap rumah merupakan fenomena psikologis yang umum dialami santri, terutama bagi mereka yang baru memasuki kehidupan pesantren. Fisher dan Hood (1987) mendefinisikan homesickness sebagai distress psikologis yang muncul akibat perpisahan dari lingkungan rumah dan orang-orang terdekat. Penelitian Thurber dan Walton (2012) menunjukkan bahwa 83% anak-anak dan remaja mengalami homesickness ketika pertama kali berpisah dari keluarga, dengan 16% di antaranya mengalami tingkat yang cukup parah hingga mengganggu fungsi sehari-hari.
Dalam konteks pesantren, homesick tidak hanya berdampak pada kesejahteraan emosional santri, tetapi juga dapat mempengaruhi motivasi belajar, prestasi akademik, dan perkembangan spiritual mereka. Namun, perspektif psikologi Islam menawarkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan dimensi spiritual, kognitif, dan behavioral dalam mengatasi permasalahan ini. Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini memberikan harapan bahwa setiap kesulitan, termasuk perasaan homesick, pasti akan ada jalan keluarnya. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi psikologis berbasis nilai-nilai Islam yang dapat membantu santri mengatasi homesick secara efektif dan mengubahnya menjadi peluang untuk pertumbuhan personal dan spiritual.
Memahami Homesick dari Perspektif Psikologi Islam
Homesick dalam pandangan psikologi Islam dapat dipahami sebagai ujian (ibtila’) yang Allah berikan untuk menguji dan memperkuat iman santri. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)
Menurut Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, kesedihan dan kerinduan yang dirasakan manusia merupakan bagian dari pengalaman nafs (jiwa) yang perlu dikelola dengan baik agar tidak mengganggu perjalanan spiritual seseorang. Perspektif ini membantu santri memaknai homesick bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai proses pembelajaran yang akan memperkuat karakter mereka.
Archer et al. (1998) menjelaskan bahwa homesickness melibatkan tiga komponen utama: kognitif (pikiran tentang rumah), emosional (perasaan sedih dan cemas), dan behavioral (perilaku menarik diri). Pemahaman komprehensif ini penting agar strategi penanganan dapat menyasar ketiga aspek tersebut secara seimbang.
Strategi Kognitif: Reframing dan Dzikir
Strategi kognitif pertama adalah cognitive reframing, yaitu mengubah cara pandang terhadap situasi. Beck (1976) dalam teori kognitif behaviour menyatakan bahwa distress emosional lebih disebabkan oleh interpretasi terhadap suatu peristiwa daripada peristiwa itu sendiri. Santri perlu dibantu untuk mengubah pemikiran negatif seperti “Saya tidak kuat jauh dari keluarga” menjadi “Ini adalah kesempatan untuk menjadi lebih mandiri dan mendekatkan diri kepada Allah.”
Dalam Islam, dzikir merupakan metode yang sangat efektif untuk mengelola pikiran negatif. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Penelitian Koenig (2012) menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti dzikir terbukti menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Santri dapat mengamalkan dzikir-dzikir tertentu seperti istighfar, tasbih, dan membaca Al-Qur’an secara rutin untuk menenangkan hati. Kombinasi antara reframing kognitif dan dzikir menciptakan mekanisme coping yang kuat secara psikologis dan spiritual.
Strategi Emosional: Emotional Regulation dan Sabar
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengelola dan memodifikasi respons emosional terhadap situasi tertentu (Gross, 1998). Santri perlu belajar mengidentifikasi, menerima, dan mengelola perasaan rindu mereka dengan cara yang sehat. Teknik seperti journaling (menulis jurnal harian) dapat membantu santri mengekspresikan emosi mereka secara konstruktif.
Konsep sabar dalam Islam memberikan framework yang sempurna untuk emotional regulation. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah membagi sabar menjadi tiga kategori: sabar dalam ketaatan, sabar dari kemaksiatan, dan sabar terhadap ujian. Homesick termasuk dalam kategori ketiga. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Santri dapat menggunakan salat sebagai outlet emosional. Penelitian Ano dan Vasconcelles (2005) menemukan bahwa religious coping, termasuk salat, signifikan menurunkan tingkat depresi dan kecemasan. Dalam sujud, santri dapat mencurahkan seluruh perasaan rindu dan kesedihan mereka kepada Allah yang Maha Mendengar.
Strategi Behavioral: Membangun Rutinitas dan Support System
Pendekatan behavioral melibatkan modifikasi perilaku konkret untuk mengurangi homesickness. Thurber (1995) menyarankan bahwa keterlibatan aktif dalam kegiatan dapat mengalihkan fokus dari perasaan rindu. Santri perlu didorong untuk aktif dalam berbagai kegiatan pesantren seperti kajian, olahraga, kesenian, dan organisasi santri.
Membangun rutinitas harian yang terstruktur sangat penting. Penelitian Fiese et al. (2002) menunjukkan bahwa rutinitas dapat memberikan rasa stabilitas dan kontrol, yang mengurangi kecemasan. Santri dapat membuat jadwal harian yang mencakup waktu belajar, ibadah, sosialisasi, dan self-care.
Support system atau jaringan dukungan sosial juga krusial. Cohen dan Wills (1985) dalam teori buffering hypothesis menjelaskan bahwa dukungan sosial dapat melindungi individu dari efek negatif stres. Santri perlu membangun pertemanan yang berkualitas dengan sesama santri, menjalin komunikasi yang baik dengan ustadz/ustadzah, dan tetap menjaga komunikasi dengan keluarga dalam batas yang wajar. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Strategi Spiritual: Memperkuat Hubungan dengan Allah
Dimensi spiritual merupakan aspek unik dalam pendekatan psikologi Islam. Santri perlu diingatkan bahwa tujuan utama mereka di pesantren adalah mendekatkan diri kepada Allah dan menuntut ilmu agama. Perspektif ini dapat mengubah homesick menjadi motivasi spiritual.
Pargament (1997) mengembangkan konsep “positive religious coping” yang melibatkan pencarian makna spiritual dalam kesulitan dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Santri dapat memperbanyak ibadah sunnah seperti qiyamul lail, puasa Senin-Kamis, dan membaca Al-Qur’an. Kedekatan dengan Allah akan memberikan ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh apapun.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa cinta kepada selain Allah harus didasarkan pada cinta kepada Allah. Dengan demikian, kerinduan kepada keluarga seharusnya memotivasi santri untuk menjadi pribadi yang lebih baik sehingga dapat membahagiakan orang tua, yang merupakan bagian dari ibadah kepada Allah.
Peran Pesantren dan Keluarga
Pengelola pesantren memiliki peran penting dalam memfasilitasi adaptasi santri. Menurut Berk (2013), lingkungan yang supportive dan responsive dapat mempercepat proses adaptasi. Pesantren perlu menyediakan:
- Program orientasi yang komprehensif untuk santri baru
- Sistem mentoring dengan kakak tingkat atau ustadz/ustadzah
- Konseling psikologis yang mudah diakses
- Kegiatan yang memfasilitasi bonding antar santri
- Komunikasi berkala dengan orang tua
Keluarga juga perlu mendukung dengan cara yang tepat. Orang tua sebaiknya memberikan dukungan emosional tanpa memperparah kerinduan, mengingatkan tujuan mulia mondok, dan berkomunikasi secara teratur namun tidak berlebihan.
KESIMPULAN
Homesick merupakan fenomena normal yang dialami santri dalam proses adaptasi kehidupan pesantren. Pendekatan psikologi Islam menawarkan strategi komprehensif yang mengintegrasikan aspek kognitif (reframing dan dzikir), emosional (regulasi emosi dan sabar), behavioral (rutinitas dan support system), dan spiritual (penguatan hubungan dengan Allah) dalam mengatasi homesickness.
Kunci keberhasilan terletak pada pemahaman bahwa homesick bukanlah kelemahan, melainkan ujian yang akan memperkuat karakter dan keimanan santri. Dengan strategi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, santri tidak hanya dapat mengatasi homesick, tetapi juga mengubahnya menjadi peluang untuk pertumbuhan personal dan spiritual yang signifikan.
Pesantren perlu menciptakan lingkungan yang supportive, dan keluarga perlu memberikan dukungan yang tepat. Yang terpenting, santri harus terus memperkuat hubungan dengan Allah SWT, karena hanya dengan mengingat-Nya lah hati akan menemukan ketenangan sejati. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28, ketenangan hakiki hanya dapat ditemukan dalam dzikrullah.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan intervensi berbasis psikologi Islam yang lebih spesifik dan terukur untuk menangani homesickness pada santri dengan berbagai karakteristik dan tingkat usia.
DAFTAR PUSTAKA
Ano, G. G., & Vasconcelles, E. B. (2005). Religious coping and psychological adjustment to stress: A meta‐analysis. Journal of Clinical Psychology, 61(4), 461-480. https://doi.org/10.1002/jclp.20049
Archer, J., Ireland, J. L., Amos, S. L., Broad, H., & Currid, L. (1998). Derivation of a homesickness scale. British Journal of Psychology, 89(2), 205-221. https://doi.org/10.1111/j.2044-8295.1998.tb02681.x
Beck, A. T. (1976). Cognitive therapy and the emotional disorders. International Universities Press.
Berk, L. E. (2013). Child development (9th ed.). Pearson Education.
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310-357. https://doi.org/10.1037/0033-2909.98.2.310
Fiese, B. H., Tomcho, T. J., Douglas, M., Josephs, K., Poltrock, S., & Baker, T. (2002). A review of 50 years of research on naturally occurring family routines and rituals. Journal of Family Psychology, 16(4), 381-390. https://doi.org/10.1037/1089-2680.16.4.381
Fisher, S., & Hood, B. (1987). The stress of the transition to university: A longitudinal study of psychological disturbance, absent-mindedness and vulnerability to homesickness. British Journal of Psychology, 78(4), 425-441. https://doi.org/10.1111/j.2044-8295.1987.tb02260.x
Al-Ghazali, A. H. M. (1998). Ihya Ulumuddin (Terjemahan). Pustaka Azzam.
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271-299. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.3.271
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. (2010). Madarijus Salikin (Terjemahan). Pustaka Al-Kautsar.
Koenig, H. G. (2012). Religion, spirituality, and health: The research and clinical implications. ISRN Psychiatry, 2012, 278730. https://doi.org/10.5402/2012/278730
Pargament, K. I. (1997). The psychology of religion and coping: Theory, research, practice. Guilford Press.
Thurber, C. A. (1995). The experience and expression of homesickness in preadolescent and adolescent boys. Child Development, 66(4), 1162-1178. https://doi.org/10.2307/1131803
Thurber, C. A., & Walton, E. A. (2012). Homesickness and adjustment in university students. Journal of American College Health, 60(5), 415-419. https://doi.org/10.1080/07448481.2012.673520


