Ilmu Nahwu

Kitab-Kitab Pokok dalam Ilmu Nahwu: Rujukan Utama Lintas Generasi

Share Tulisan

Penyusun : Reza Taufik Ilham S.Pd

Pendahuluan

Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya pembelajaran bahasa Arab, terdapat sejumlah kitab yang telah menjadi rujukan utama lintas generasi. Kitab-kitab nahwu klasik ini tidak hanya berfungsi sebagai buku teks, tetapi juga sebagai manifestasi metodologi pengajaran yang telah teruji berabad-abad (Dhif, 1986). Dari ribuan kitab nahwu yang pernah ditulis, tiga kitab menonjol sebagai pilar fundamental yang mewakili berbagai tingkatan pembelajaran: Al-Kitab karya Sibawaih untuk level advanced, Al-Ajurrumiyah untuk pemula, dan Alfiyah Ibnu Malik sebagai kompilasi komprehensif.

Setiap kitab memiliki karakteristik unik yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar. As-Suyuthi dalam “Bughyah al-Wu’ah” menyatakan:

“إِنَّ الْكُتُبَ النَّحْوِيَّةَ تَتَفَاوَتُ فِي الطَّرِيْقَةِ وَالْمَنْهَجِ، وَلِكُلٍّ مَقَامٌ وَمُقْتَضَى”

“Sesungguhnya kitab-kitab nahwu berbeda dalam metode dan pendekatan, dan setiap kitab memiliki tempat dan konteks yang sesuai” (As-Suyuthi, 1979, hal. 287).

Artikel ini akan mengupas secara mendalam tiga kitab pokok yang menjadi pilar pembelajaran nahwu: Al-Kitab sebagai referensi teoretis tertinggi, Al-Ajurrumiyah sebagai pintu gerbang pembelajaran, dan Alfiyah Ibnu Malik sebagai kompilasi komprehensif yang menjembatani pemula dan mahir.

Al-Kitab Karya Sibawaih

  1. Latar Belakang Penulisan

“Al-Kitab” (الكتاب) karya Abu Bisyr ‘Amr bin ‘Utsman bin Qanbar (Sibawaih, w. 180 H) adalah magnum opus pertama dan terpenting dalam sejarah ilmu nahwu. Kitab ini disusun pada abad ke-2 Hijriah di kota Basrah, pusat keilmuan linguistik Arab saat itu (Al-Qifti, 1986).

Sibawaih menyusun kitab ini berdasarkan pembelajaran dari gurunya, Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, dan menjadikannya ensiklopedia nahwu yang komprehensif. Kitab ini begitu monumentalnya sehingga cukup disebut “Al-Kitab” (The Book) tanpa penyebutan nama pengarang, sebagaimana Al-Qur’an disebut “Al-Kitab” dalam konteks keagamaan (Mahzumi, 1986).

  1. Karakteristik dan Metodologi Al-Kitab
  2. Komprehensivitas Luar Biasa

Al-Kitab terdiri dari 1.000+ halaman (edisi modern) yang membahas hampir seluruh aspek nahwu dan shorof. Cakupannya meliputi:

  • Teori ‘amil (operator gramatikal)
  • I’rab dan bina’ (infleksi dan fiksasi)
  • Jumlah (struktur kalimat)
  • Tawabi’ (subordinat)
  • Huruf-huruf dan maknanya
  • Tashrif (morfologi)

Imam Al-Jahiz (w. 255 H) berkomentar:

“لَمْ يُكْتَبِ النَّاسُ فِي النَّحْوِ كِتَابًا مِثْلَهُ، وَلَا أَحْسَنَ تَأْلِيْفًا مِنْهُ”

“Manusia belum pernah menulis kitab nahwu yang menyamainya, dan tidak ada yang lebih baik penyusunannya” (As-Sirafi, 1955, hal. 34).

  1. Metode Analitik Mendalam

Sibawaih tidak hanya menyebutkan kaidah, tetapi:

  • Memberikan ‘illah (reasoning/penalaran logis) untuk setiap kaidah
  • Menganalisis pengecualian dan fenomena khusus
  • Membandingkan berbagai pendapat (ikhtilaf)
  • Menyertakan argumentasi yang kuat (Versteegh, 1997)

Contoh metodologi Sibawaih dalam membahas rafa’ mubtada’:

“وَأَمَّا الْمُبْتَدَأُ فَكُلُّ اسْمٍ ابْتُدِئَ لِيُبْنَى عَلَيْهِ كَلَامٌ، فَالْابْتِدَاءُ لَا يَكُوْنُ إِلَّا بِمَبْنِيٍّ عَلَيْهِ، فَالْمَبْنِيُّ عَلَيْهِ رَفْعٌ”

“Adapun mubtada’ adalah setiap isim yang dimulai untuk dibangun padanya sebuah kalimat. Permulaan (kalimat) tidak terjadi kecuali dengan sesuatu yang dibangun padanya, maka yang dibangun padanya (khabar) adalah rafa'” (Sibawaih, 1988, hal. 1/126).

  1. Penggunaan Syawahid (Bukti Empiris)

Al-Kitab memuat:

  • 050+ kutipan syair Arab klasik
  • Ratusan contoh dari Al-Qur’an
  • Penggunaan bahasa aktual masyarakat Arab (Owens, 1988)

Pendekatan berbasis data ini sangat modern untuk zamannya dan menjadi model penelitian linguistik hingga kini.

  1. Terminologi Teknis Sistematis

Sibawaih mengembangkan istilah-istilah nahwu yang masih digunakan hingga sekarang:

  • Fa’il (فاعل), Maf’ul (مفعول)
  • Hal (حال), Tamyiz (تمييز)
  • Mudhari’ (مضارع), Madhi (ماضٍ)
  • Na’t (نعت), ‘Athf (عطف)

 

  1. Tantangan dan Syarah Al-Kitab

Karena kedalaman dan kompleksitasnya, Al-Kitab tergolong sulit dipelajari tanpa bimbingan. Oleh karena itu, muncul ratusan syarah (penjelasan) untuk memudahkan pemahaman:

  1. Syarh Kitab Sibawaih oleh As-Sirafi (w. 368 H) Syarah terlengkap dalam 5 jilid besar yang menjelaskan istilah, mengurai argumentasi, dan memberikan contoh tambahan (As-Sirafi, 2008).
  2. Al-Kitab al-‘Adud fi Syarh Kitab Sibawaih oleh Ibnu Khuruf (w. 609 H) Fokus pada aspek filosofis dan teoritis (Dhif, 1986).
  3. Syarh Kitab Sibawaih oleh Ar-Rummani (w. 384 H) Pendekatan logis-filosofis dalam menjelaskan kaidah.
  4. Posisi Al-Kitab dalam Pembelajaran

Al-Kitab bukan kitab untuk pemula, melainkan untuk tingkat lanjut setelah menguasai dasar-dasar nahwu. Imam Asy-Syafi’i menyatakan:

“مَنْ أَرَادَ أَنْ يَتَبَحَّرَ فِي النَّحْوِ فَهُوَ عِيَالٌ عَلَى كِتَابِ سِيْبَوَيْهِ”

“Barangsiapa ingin menguasai nahwu secara mendalam, maka ia bergantung pada Kitab Sibawaih” (Al-Qifti, 1986, hal. 458).

Kitab 1

Al-Ajurrumiyah

  1. Latar Belakang dan Pengarang

“Al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah” (المقدمة الآجرومية) atau singkatnya “Al-Ajurrumiyah” adalah kitab nahwu ringkas yang disusun oleh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Dawud ash-Shanhaji, yang dikenal dengan nama Ibnu Ajurrum (w. 723 H) di kota Fez, Maroko (As-Suyuthi, 1979).

Nama “Ajurrum” berasal dari bahasa Berber yang berarti “fakir” atau “miskin”, menggambarkan kesederhanaan pengarangnya yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu (Ash-Shanhaji, 1999).

  1. Karakteristik Al-Ajurrumiyah
  2. Kesederhanaan dan Keringkasan

Al-Ajurrumiyah hanya terdiri dari sekitar 10-15 halaman (edisi standar), namun mencakup prinsip-prinsip dasar nahwu secara sistematis:

  • Al-Kalam dan Jenisnya (kalimat)
  • I’rab dan Bina’
  • Af’al (kata kerja)
  • Fa’il dan Na’ib Fa’il
  • Mubtada’ dan Khabar
  • Kana wa Akhwatuha
  • Inna wa Akhwatuha
  • An-Na’t, al-‘Athf, at-Taukid, al-Badal
  1. Bahasa yang Jelas dan Langsung

Ibnu Ajurrum menggunakan bahasa yang sederhana tanpa perdebatan teoretis. Contoh definisi kalam:

“الْكَلَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيْدُ بِالْوَضْعِ”

“Kalam adalah lafazh yang tersusun yang berfaedah menurut konvensi” (Ash-Shanhaji, 1999, hal. 5).

Definisi ini simpel namun mencakup semua unsur esensial tanpa elaborasi filosofis yang membingungkan pemula.

  1. Struktur Sistematis dan Gradualistik

Kitab ini disusun dari yang paling dasar (jenis kata) menuju yang lebih kompleks (tawabi’), memudahkan pembelajaran bertahap (Ni’mah, 1999).

  1. Fokus pada Kaidah Praktis

Al-Ajurrumiyah tidak membahas perbedaan pendapat (ikhtilaf) atau ‘illah yang mendalam, melainkan langsung pada kaidah yang paling masyhur dan praktis (Al-Ghalayini, 2010).

  1. Mengapa Al-Ajurrumiyah Sangat Populer?
  2. Kemudahan Hafalan

Struktur kalimatnya yang ringkas dan ritmis memudahkan hafalan. Di pesantren-pesantren tradisional, santri menghafalkan seluruh teks sebagai fondasi (Bruinessen, 1995).

  1. Kesesuaian untuk Pemula

Tidak ada prasyarat khusus untuk mempelajari Al-Ajurrumiyah, membuatnya ideal sebagai pintu masuk pembelajaran nahwu (Dhofier, 1982).

  1. Banyaknya Syarah

Ratusan ulama menulis syarah untuk Al-Ajurrumiyah, memberikan berbagai level penjelasan:

  • At-Tuhfah as-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah oleh Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid – syarah standar yang paling banyak digunakan
  • Al-Kawakib ad-Durriyyah oleh Muhammad bin Ahmad al-Ushmuny – syarah sedang
  • Hasyiyah ash-Shabbagh – syarah lanjut dengan pembahasan mendalam
  • Fath Rabb al-Bariyyah oleh Ahmad Zaini Dahlan – syarah populer di Indonesia
  1. Berkah Pengarang

Banyak ulama dan santri merasakan “berkah” dalam mempelajari Al-Ajurrumiyah. Ibnu Ajurrum dikabarkan menyusun kitab ini setelah beribadah di Makkah, dan mendapat ilham untuk membuat kitab yang bermanfaat luas (As-Suyuthi, 1979).

  1. Keterbatasan Al-Ajurrumiyah

Meskipun sangat baik untuk pemula, Al-Ajurrumiyah memiliki keterbatasan:

  • Tidak membahas ‘illah (reasoning) kaidah
  • Tidak mencakup pembahasan lanjutan
  • Tidak memuat perbedaan pendapat ulama
  • Tidak menyertakan contoh dari Al-Qur’an secara langsung

Oleh karena itu, setelah menguasai Al-Ajurrumiyah, pembelajar perlu melanjutkan ke kitab yang lebih komprehensif seperti Qathr an-Nada, Syudzur adz-Dzahab, atau Alfiyah Ibnu Malik (Hassan, 1994).

Alfiyah Ibnu Malik dan Syarah-Syarahnya
  1. Latar Belakang dan Pengarang

“Alfiyah Ibnu Malik” atau lengkapnya “Al-Khulashah al-Alfiyyah fi ‘Ilm al-‘Arabiyyah” adalah nazham (syair didaktik) yang berisi 1.000 bait (dalam beberapa versi 1.002 bait) tentang nahwu dan shorof, disusun oleh Imam Jamal ad-Din Muhammad bin ‘Abdullah Ibnu Malik ath-Tha’i al-Andalusi (w. 672 H) (Ibnu Malik, 2000).

Ibnu Malik adalah ulama multidisipliner yang menguasai nahwu, shorof, lughah, qira’at, dan hadits. Ia lahir di Jaén, Andalusia (Spanyol), kemudian hijrah ke Damaskus dan mengajar di sana hingga wafat (As-Suyuthi, 1979).

  1. Karakteristik Alfiyah
  2. Format Nazham (Puisi Didaktik)

Alfiyah ditulis dalam bentuk syair dengan bahr rajaz, memudahkan hafalan dan menjaga dari perubahan teks. Setiap bait berisi satu atau lebih kaidah nahwu atau shorof. Contoh bait pembuka:

“قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ مَالِكْ *** أَحْمَدُ رَبِّي اللهَ خَيْرَ مَالِكْ”

“Berkata Muhammad dia adalah Ibnu Malik: Aku memuji Rabbku Allah sebaik-baik Pemilik” (Ibnu Malik, 2000, bait 1).

  1. Komprehensivitas

Alfiyah mencakup:

  • Kalam dan pembagiannya (bait 1-20)
  • I’rab (bait 21-40)
  • Marfu’at (bait 41-300+)
  • Manshubat (bait 300+)
  • Majrurat dan Majzumat
  • Shorof (bait 800-1000)
  • Tashrif fi’il dan isim

Cakupan ini menjadikan Alfiyah sebagai “ensiklopedia ringkas” yang mencakup hampir semua topik nahwu-shorof (Dhif, 1986).

  1. Pendekatan Eklektik

Ibnu Malik tidak fanatik terhadap mazhab Basrah atau Kufah, melainkan mengambil pendapat terkuat dari kedua mazhab berdasarkan dalil dan argumentasi. Pendekatan ini menjadikan Alfiyah diterima luas oleh berbagai kalangan (Versteegh, 1997).

  1. Keseimbangan Teori dan Praktik

Meskipun komprehensif, Alfiyah tetap praktis dengan memberikan contoh-contoh konkret dan tidak terlalu berbelit dalam perdebatan teoretis (Hassan, 1994).

  1. Syarah-Syarah Alfiyah yang Terkenal

Karena pentingnya, ratusan ulama menulis syarah untuk Alfiyah. Berikut yang paling masyhur:

  1. Syarh Ibnu ‘Aqil (w. 769 H)

Judul Lengkap: “Syarh Ibnu ‘Aqil ‘ala Alfiyah Ibni Malik”

Karakteristik:

  • Syarah paling populer dan banyak diajarkan di pesantren
  • Penjelasan sedang: tidak terlalu ringkas, tidak terlalu panjang
  • Bahasa yang relatif mudah dipahami
  • Memberikan contoh-contoh tambahan dari Al-Qur’an dan syair
  • Fokus pada pemahaman kaidah praktis (Ibnu ‘Aqil, 1980)

Target: Santri menengah hingga mahir

Kelebihan: Balance antara kedalaman dan kemudahan, menjadikannya ideal untuk pembelajaran klasikal di pesantren.

  1. Syarh al-Asymuny (w. 900 H)

Judul Lengkap: “Manhaj as-Salik fi al-Kalam ‘ala Alfiyah Ibni Malik” atau “Syarh al-Asymuny”

Karakteristik:

  • Syarah yang sangat mendalam dan detail
  • Membahas perbedaan pendapat ulama (ikhtilaf)
  • Mengurai ‘illah dan argumentasi filosofis
  • Mencakup pembahasan yang tidak ada di Ibnu ‘Aqil
  • Menyertakan hasyiyah (catatan kaki) dari ash-Shabbagh (Al-Asymuny, 1998)

Target: Tingkat advanced/mahir

Kelebihan: Kedalaman analisis dan komprehensivitas pembahasan.

  1. Awdhah al-Masalik oleh Ibnu Hisyam (w. 761 H)

Karakteristik:

  • Syarah ringkas dan padat
  • Fokus pada penjelasan makna bait tanpa elaborasi berlebihan
  • Cocok untuk review cepat setelah hafalan
  • Bahasa yang jelas dan lugas (Ibnu Hisyam, 1979)

Target: Hafizh Alfiyah yang ingin memahami makna dasar

Kelebihan: Kesederhanaan dan kejelasan.

  1. Al-Maqashid asy-Syafiyah oleh Asy-Syatibi (w. 790 H)

Karakteristik:

  • Syarah dalam bentuk nazham juga (10.000+ bait!)
  • Sangat detail dan mendalam
  • Membahas aspek filosofis dan teoritis
  • Pendekatan kritis terhadap beberapa kaidah (Asy-Syatibi, 2007)

Target: Peneliti dan akademisi tingkat tinggi

Kelebihan: Kedalaman teoretis yang luar biasa.

  1. Syarh al-Mufashshal li Alfiyah Ibni Malik oleh Muhammad ‘Abdul ‘Aziz an-Najjar

Karakteristik:

  • Syarah kontemporer (abad ke-20)
  • Menggunakan bahasa modern yang lebih mudah
  • Menyertakan tabel dan skema
  • Memberikan contoh dari bahasa Arab modern (An-Najjar, 1980)

Target: Pembelajar modern yang kurang familiar dengan gaya klasik

Kelebihan: Aksesibilitas untuk pembelajar kontemporer.

  1. Metodologi Pembelajaran Alfiyah
  2. Tahap Hafalan

Di pesantren tradisional, santri menghafalkan seluruh 1.000 bait Alfiyah. Proses ini bisa memakan waktu 6 bulan hingga 2 tahun tergantung intensitas (Bruinessen, 1995).

  1. Tahap Pemahaman dengan Syarah

Setelah hafal, santri mempelajari syarah, biasanya dimulai dari Ibnu ‘Aqil untuk memahami makna setiap bait (Dhofier, 1982).

  1. Tahap Aplikasi

Santri mempraktikkan kaidah yang dipelajari dengan menganalisis teks Al-Qur’an, hadits, atau teks Arab klasik lainnya (Ni’mah, 1999).

  1. Tahap Pendalaman

Untuk yang ingin mendalami, melanjutkan ke syarah yang lebih mendalam seperti Asymuny atau Syatibi.

  1. Kelebihan dan Keterbatasan Alfiyah

Kelebihan:

  • Komprehensif dalam satu kitab
  • Mudah dihafal karena berbentuk nazham
  • Mencakup nahwu dan shorof sekaligus
  • Pendekatan eklektik yang objektif
  • Didukung oleh banyak syarah berkualitas

Keterbatasan:

  • Memerlukan syarah untuk pemahaman penuh
  • Beberapa bait terlalu ringkas sehingga ambigu
  • Tidak cocok untuk pemula tanpa bimbingan
  • Memerlukan waktu lama untuk dikuasai
  1. Posisi Alfiyah dalam Kurikulum Pesantren

Alfiyah menempati posisi sentral dalam kurikulum nahwu pesantren Indonesia. Hierarki pembelajaran umumnya:

  1. Al-Ajurrumiyah (pemula) – 3-6 bulan
  2. ‘Imrithi atau Kawakib Durriyyah (menengah awal) – 6 bulan
  3. Alfiyah Ibnu Malik (menengah-mahir) – 1-2 tahun
  4. Syarah Alfiyah (mahir) – 1-3 tahun
  5. Kitab Sibawaih atau kitab lanjutan (expert) – berkelanjutan

Penguasaan Alfiyah beserta syarahnya dianggap sebagai penanda kelulusan dari studi nahwu formal di banyak pesantren (Bruinessen, 1995).

Kitab 2
Perbandingan Ketiga Kitab

Aspek

Al-Kitab Sibawaih

Al-Ajurrumiyah

Alfiyah Ibnu Malik

Level

Advanced

Pemula

Menengah-Mahir

Panjang

1000+ halaman

10-15 halaman

1000 bait

Metode

Prosa analitis

Prosa ringkas

Nazham (syair)

Cakupan

Komprehensif + teoretis

Dasar-dasar

Komprehensif ringkas

Target

Peneliti, akademisi

Santri pemula

Santri menengah-mahir

Kemudahan

Sangat sulit

Sangat mudah

Sedang (perlu syarah)

Syarah

Puluhan

Ratusan

Ratusan

Waktu Penguasaan

Bertahun-tahun

3-6 bulan

1-3 tahun

Kesimpulan

Ketiga kitab pokok dalam ilmu nahwu—Al-Kitab Sibawaih, Al-Ajurrumiyah, dan Alfiyah Ibnu Malik—mewakili tiga pilar pembelajaran yang saling melengkapi. Al-Kitab Sibawaih menyediakan fondasi teoretis yang mendalam bagi peneliti dan akademisi tingkat tinggi. Al-Ajurrumiyah membuka pintu gerbang pembelajaran nahwu dengan kesederhanaan dan kejelasannya yang cocok untuk pemula. Alfiyah Ibnu Malik menjembatani keduanya dengan menyajikan kompilasi komprehensif dalam format yang dapat dihafal dan dipraktikkan.

Ketiganya memiliki kesamaan: ditulis oleh ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, menggunakan metodologi yang sistematis, dan telah teruji efektivitasnya lintas generasi dan geografi. Perbedaan mereka terletak pada target audiens, kedalaman pembahasan, dan pendekatan pedagogis.

Dalam konteks pembelajaran modern, pemahaman terhadap hierarki ketiga kitab ini penting untuk merancang kurikulum yang efektif. Pembelajar pemula sebaiknya memulai dengan Al-Ajurrumiyah, kemudian melanjutkan ke Alfiyah beserta syarahnya, dan bagi yang ingin mendalami aspek teoretis dapat merujuk kepada Al-Kitab Sibawaih.

Warisan ketiga kitab ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam memiliki metodologi pembelajaran yang matang, gradualistik, dan adaptif terhadap berbagai tingkat kemampuan. Di era digital, akses terhadap ketiga kitab beserta syarah-syarahnya semakin mudah, namun esensi pembelajaran tetap memerlukan bimbingan guru (talaqqī), praktik berkelanjutan, dan dedikasi yang tinggi.

Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengembangkan metode pembelajaran ketiga kitab ini yang sesuai dengan konteks abad ke-21, termasuk pemanfaatan teknologi digital, tanpa kehilangan esensi metodologi klasik yang telah terbukti efektif.

Daftar Pustaka

Al-Asymuny, A. M. (1998). Manhaj as-Salik fi al-Kalam ‘ala Alfiyah Ibni Malik (Syarh al-Asymuny). Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Ghalayini, M. (2010). Jami’ ad-durus al-‘Arabiyyah (Jilid 1-3). Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.

Al-Qifti, J. A. (1986). Inbah ar-ruwat ‘ala anbah an-nuhat. Dar al-Fikr al-‘Arabi.

An-Najjar, M. A. (1980). Syarh al-Mufashshal li Alfiyah Ibni Malik. Dar ash-Shafa.

Ash-Shanhaji, M. (1999). Al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah (Tahqiq: Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid). Dar ath-Thala’i’.

As-Sirafi, A. S. (1955). Akhbar an-nahwiyyin al-Basriyyin. Musthafa al-Babi al-Halabi.

As-Sirafi, A. S. (2008). Syarh Kitab Sibawaih (Jilid 1-5). Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

As-Suyuthi, J. A. (1979). Bughyah al-Wu’ah fi Thabaqat al-Lughawiyyin wa an-Nuhah. Dar al-Fikr.

Asy-Syatibi, A. I. (2007). Al-Maqashid asy-Syafiyah fi Syarh al-Khulashah al-Kafiyah (Jilid 1-7). Ma’had al-Buhuts al-‘Ilmiyyah.

Bruinessen, M. van. (1995). Kitab kuning, pesantren dan tarekat. Mizan.

Dhif, S. (1986). Al-Madaris an-nahwiyyah. Dar al-Ma’arif.

Dhofier, Z. (1982). Tradisi pesantren: Studi tentang pandangan hidup kyai. LP3ES.

Hassan, A. (1994). An-Nahw al-Wafi (Jilid 1-4). Dar al-Ma’arif.

Ibnu ‘Aqil, B. A. (1980). Syarh Ibnu ‘Aqil ‘ala Alfiyah Ibni Malik (Tahqiq: Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid). Dar at-Turats.

Ibnu Hisyam, J. A. (1979). Awdhah al-Masalik ila Alfiyah Ibni Malik (Jilid 1-4). Dar al-Jil.

Ibnu Malik, M. (2000). Matn al-Alfiyyah (Al-Khulashah al-Alfiyyah). Dar at-Tala’i’.

Mahzumi, M. (1986). Madrasah al-Basrah an-nahwiyyah: Nash’atuha wa tatawwuruha. Maktabah Musthafa al-Babi al-Halabi.

Ni’mah, F. (1999). Mulakhkhas qawa’id al-lughah al-‘Arabiyyah. Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyyah.

Owens, J. (1988). The foundations of grammar: An introduction to medieval Arabic grammatical theory. John Benjamins Publishing.

Sibawaih, A. B. (1988). Al-Kitab (Tahqiq: ‘Abd as-Salam Muhammad Harun, Jilid 1-5). Maktabah al-Khanji.

Versteegh, K. (1997). The Arabic language. Edinburgh University Press.


Share Tulisan
Scroll to Top