PENDAHULUAN
Dakwah merupakan kewajiban setiap Muslim dalam menyebarkan ajaran Islam kepada umat manusia. Namun, pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: dari mana seharusnya dakwah dimulai? Allah SWT memberikan petunjuk yang jelas dalam Al-Quran bahwa dakwah harus dimulai dari lingkaran terdekat, yaitu diri sendiri dan keluarga (Al-Tahrim: 6). Konsep ini menunjukkan bahwa kesuksesan dakwah eksternal sangat bergantung pada kualitas dakwah internal yang dimulai dari pribadi dan keluarga.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini menegaskan bahwa tanggung jawab dakwah pertama adalah terhadap diri sendiri dan orang-orang yang berada dalam pengawasan kita, khususnya keluarga. Menurut Al-Qaradhawi (2001), dakwah yang efektif harus dimulai dari transformasi individual sebelum ekspansi ke masyarakat luas. Konsep ini sejalan dengan prinsip “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya), yang menekankan pentingnya perbaikan diri sebagai fondasi dakwah.
Dalam konteks kontemporer, banyak dai yang fokus pada dakwah eksternal namun mengabaikan kondisi spiritual diri dan keluarga (Aziz, 2017). Fenomena ini menciptakan gap antara pesan dakwah dengan realitas kehidupan dai, yang pada akhirnya mengurangi efektivitas dakwah itu sendiri. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang urgensi, strategi, dan implementasi dakwah yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga berdasarkan perspektif Al-Quran, Hadist, dan pandangan para ulama.
Dakwah Kepada Diri Sendiri: Fondasi Utama Dakwah
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 44:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Ayat ini merupakan teguran keras bagi mereka yang berdakwah namun tidak mengamalkan apa yang didakwahkan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa dakwah tanpa keteladanan adalah seperti pohon tanpa buah (Al-Ghazali, 1987). Dakwah kepada diri sendiri mencakup beberapa dimensi fundamental:
- Muhasabah (Introspeksi Diri)
Umar bin Khattab ra berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang” (At-Tirmidzi). Muhasabah adalah proses evaluasi diri secara berkala untuk mengidentifikasi kelemahan spiritual dan upaya perbaikannya. Menurut Hawwa (2006), muhasabah harus dilakukan minimal setiap hari, terutama sebelum tidur, untuk merefleksikan perbuatan yang telah dilakukan.
- Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
Proses pembersihan jiwa dari penyakit hati seperti riya, ujub, hasad, dan sombong. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syams ayat 9: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu.” Tazkiyatun nafs dilakukan melalui ibadah rutin, dzikir, dan menjauhi maksiat (Az-Zabidi, 1994).
- Istiqamah dalam Ketaatan
Rasulullah SAW bersabda: “Beramallah dengan konsisten meskipun sedikit” (HR. Bukhari). Konsistensi dalam ibadah wajib dan sunnah menjadi indikator keseriusan seseorang dalam berdakwah kepada dirinya sendiri.
Dakwah Kepada Keluarga: Prioritas Kedua dalam Dakwah
Setelah diri sendiri, lingkaran dakwah berikutnya adalah keluarga. Allah SWT memerintahkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang mukmin tidak hanya pada dirinya, tetapi juga pada keluarganya. Menurut Quthb (2000), kata “qu” (peliharalah) dalam ayat ini mengandung makna aktif dan berkelanjutan, bukan hanya perintah sesaat. Dakwah kepada keluarga memiliki beberapa strategi implementatif:
- Keteladanan (Uswah Hasanah)
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam mendidik keluarga. Aisyah ra berkata: “Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran” (HR. Muslim). Dalam konteks keluarga, orang tua harus menjadi role model dalam ibadah, akhlak, dan muamalah. Penelitian Amin (2015) menunjukkan bahwa 78% anak yang istiqamah dalam ibadah berasal dari keluarga yang orang tuanya konsisten beribadah.
- Pendidikan Agama Sejak Dini
Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu shalat ketika berumur tujuh tahun” (HR. Abu Dawud). Pendidikan agama harus dimulai sejak usia dini dengan metode yang menyenangkan dan tidak memaksa (Tafsir, 2012). Hal ini mencakup:
- Mengajarkan Al-Quran dan hafalan surat-surat pendek
- Membiasakan shalat berjamaah di rumah
- Mengajarkan adab dan akhlak Islami
- Memberikan pemahaman tentang halal-haram
- Komunikasi Efektif dalam Keluarga
Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam keluarga. Orang tua harus menciptakan atmosfer keterbukaan dimana anak merasa nyaman untuk berdiskusi tentang agama tanpa takut dihakimi (Ibn Qayyim, 2003). Metode komunikasi yang dianjurkan meliputi:
- Diskusi keluarga tentang nilai-nilai Islam
- Berbagi pengalaman spiritual
- Memberikan nasihat dengan hikmah dan kelembutan
- Mendengarkan keluh kesah anggota keluarga
- Menciptakan Lingkungan Islami di Rumah
Rumah harus menjadi benteng pertahanan dari pengaruh negatif eksternal. Hal ini dapat diwujudkan dengan:
- Menghiasi rumah dengan kaligrafi dan ayat-ayat Al-Quran
- Menyediakan perpustakaan mini dengan buku-buku Islami
- Membatasi akses media yang tidak sesuai syariat
- Mengadakan majlis taklim keluarga rutin
Tantangan dan Solusi Dakwah di Era Modern
Dakwah kepada diri dan keluarga di era digital menghadapi tantangan tersendiri. Menurut Nasution (2019), penetrasi media sosial dan gaya hidup hedonis menjadi hambatan utama. Namun, teknologi juga dapat menjadi media dakwah yang efektif jika digunakan dengan bijak.
Solusi Praktis:
- Menggunakan aplikasi pengingat ibadah
- Mengikuti konten Islami yang berkualitas
- Membuat grup keluarga untuk berbagi ilmu agama
- Mengatur family time tanpa gadget untuk quality time bersama keluarga
Dakwah yang efektif dan berkelanjutan harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga sebagai fondasi yang kuat. Al-Quran dan Hadist secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk memprioritaskan perbaikan diri dan keluarga sebelum berdakwah ke lingkaran yang lebih luas. Tanpa fondasi yang kokoh pada dua aspek ini, dakwah eksternal akan kehilangan kekuatan dan kredibilitasnya.
Implementasi dakwah kepada diri sendiri mencakup muhasabah, tazkiyatun nafs, dan istiqamah dalam ketaatan. Sementara dakwah kepada keluarga memerlukan keteladanan, pendidikan agama sejak dini, komunikasi efektif, dan penciptaan lingkungan Islami di rumah. Di era modern yang penuh tantangan, umat Islam harus bijak dalam memanfaatkan teknologi sebagai media dakwah sambil tetap menjaga nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan para ulama.
Sebagai penutup, marilah kita renungkan firman Allah dalam QS. Al-Asr: “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” Dakwah dimulai dari diri dan keluarga adalah bentuk konkret dari saling menasihati dalam kebenaran, yang menjadi kunci keselamatan dunia dan akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, A. H. (1987). Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Qaradhawi, Y. (2001). Fiqh ad-Dakwah fi Sahwah al-Islamiyah. Kairo: Maktabah Wahbah.
Amin, S. M. (2015). Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah.
Aziz, M. A. (2017). Ilmu Dakwah: Edisi Revisi. Jakarta: Kencana.
Az-Zabidi, M. M. (1994). Ithaf as-Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya Ulumuddin. Beirut: Muassasah at-Tarikh al-Arabi.
Hawwa, S. (2006). Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu. Jakarta: Robbani Press.
Ibn Qayyim Al-Jauziyyah. (2003). Tuhfah al-Mawdud bi Ahkam al-Mawlud. Damaskus: Maktabah Dar al-Bayan.
Nasution, H. (2019). Dakwah di Era Digital: Peluang dan Tantangan. Medan: IAIN Press.
Quthb, S. (2000). Fi Zhilal al-Quran. Kairo: Dar asy-Syuruq.
Tafsir, A. (2012). Ilmu Pendidikan Islami. Bandung: Remaja Rosdakarya.



