Penyusun : Bahrul Ulum. L.c
Pendahuluan
Belajar Dakwah Dari Rasulullah. Dakwah merupakan misi utama yang diemban oleh Rasulullah Muhammad SAW sejak beliau diangkat menjadi nabi dan rasul. Dalam rentang waktu 23 tahun, beliau berhasil mentransformasi masyarakat Arab jahiliyah yang tenggelam dalam kegelapan menjadi umat terbaik yang pernah ada di muka bumi. Keberhasilan dakwah Rasulullah bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi, metode, dan pendekatan yang brilliant serta penuh hikmah (Al-Mubarakfuri, 2001).
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Di era digital dan modern ini, tantangan dakwah semakin kompleks. Da’i masa kini menghadapi berbagai problematika mulai dari degradasi moral, pemahaman agama yang parsial, hingga serangan pemikiran yang merusak akidah umat. Oleh karena itu, mempelajari metode dakwah Rasulullah menjadi kebutuhan mendesak bagi setiap Muslim yang ingin berkontribusi dalam menyebarkan Islam (Aziz, 2017). Artikel ini akan mengupas 10 pelajaran fundamental dari dakwah Rasulullah yang wajib diterapkan oleh para da’i kontemporer.
Memulai Dakwah dengan Keluarga Terdekat
Rasulullah SAW memulai dakwahnya dari lingkaran terdekat, yakni keluarga dan sahabat karib. Istri beliau, Khadijah radhiyallahu ‘anha, menjadi Muslim pertama, disusul oleh Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq (Ibn Hisham, 2009).
Ketika turun ayat:
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)
Strategi ini mengajarkan bahwa dakwah yang efektif dimulai dari lingkaran terdekat. Ketika keluarga sendiri belum terhidayah, bagaimana mungkin dapat menghidayahi orang lain? Prinsip ini sejalan dengan konsep “charity begins at home” dalam dakwah Islam (Suparta, 2015).
Dakwah dengan Keteladanan (Uswah Hasanah)
Rasulullah adalah teladan terbaik dalam setiap aspek kehidupan. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Sebelum menyeru orang lain, Rasulullah terlebih dahulu mempraktikkan apa yang diajarkan. Beliau dikenal dengan julukan Al-Amin (yang terpercaya) bahkan sebelum menjadi nabi. Keteladanan ini menjadi modal utama dakwah yang mempengaruhi hati manusia lebih dalam daripada seribu kata-kata (Al-Ghazali, 1999).
Memahami Kondisi Mad'u (Audiens)
Rasulullah SAW selalu menyesuaikan pendekatan dakwah dengan kondisi, latar belakang, dan kapasitas intelektual mad’u. Dalam sebuah hadist, beliau bersabda:
خَاطِبُوا النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka.” (HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah)
Kepada kaum Quraisy yang terkenal dengan kefasihan bahasa, Rasulullah menggunakan argumentasi logis dan mukjizat Al-Quran yang merupakan puncak sastra Arab. Sementara kepada kaum awam, beliau menggunakan perumpamaan dan kisah yang mudah dipahami (Amin, 2013).
Berdakwah dengan Hikmah dan Kelembutan
Prinsip hikmah dalam dakwah Rasulullah tercermin dalam sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. Allah memuji akhlak Rasulullah:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Ketika seorang Badui buang air kecil di masjid, para sahabat hendak memukul, namun Rasulullah melarang dan justru mengajarkan dengan lembut cara yang benar. Pendekatan ini jauh lebih efektif daripada kekerasan (Al-Bukhari & Muslim).
Konsisten dan Istiqamah dalam Dakwah
Selama 13 tahun di Mekah, Rasulullah menghadapi penolakan, penghinaan, bahkan penyiksaan fisik. Namun beliau tetap istiqamah menyampaikan risalah. Paman beliau, Abu Thalib, pernah menyampaikan tawaran Quraisy untuk menghentikan dakwah dengan imbalan kekayaan dan kekuasaan. Rasulullah menjawab:
وَاللَّهِ يَا عَمِّ، لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ
“Demi Allah wahai pamanku, sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.” (Ibn Ishaq, 2004)
Istiqamah ini mengajarkan bahwa dakwah memerlukan kesabaran dan komitmen jangka panjang (Munir, 2009).
Mengutamakan Akidah sebagai Fondasi
Seluruh periode Mekah (13 tahun) difokuskan pada pembinaan akidah. Rasulullah tidak terburu-buru mengajarkan syariat sebelum fondasi tauhid kokoh tertanam. Mayoritas ayat Makkiyah berbicara tentang tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi. Hanya setelah akidah kuat, syariat diturunkan secara bertahap di Madinah (Al-Qaradhawi, 2001).
Strategi ini menunjukkan pentingnya prioritas dalam dakwah. Akidah adalah pondasi, sedangkan syariat adalah bangunan di atasnya.
Menggunakan Metode Gradual (Tadarruj)
Rasulullah menerapkan prinsip gradualisme dalam dakwah dan penetapan hukum. Larangan khamr (minuman keras), misalnya, diturunkan dalam empat tahap, bukan sekaligus. Hal ini untuk memudahkan masyarakat Arab yang sudah terbiasa dengan khamr untuk meninggalkannya (As-Suyuthi, 2003).
Hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha menegaskan:
إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ
“Sesungguhnya yang pertama kali turun dari Al-Quran adalah surat dari Al-Mufashshal yang menyebut surga dan neraka…” (HR. Al-Bukhari)
Prinsip tadarruj ini sangat relevan untuk dakwah masa kini yang menghadapi masyarakat dengan berbagai tingkat pemahaman agama.
Menggunakan Dialog dan Debat yang Santun
Rasulullah sering berdialog dengan kaum musyrikin, Yahudi, dan Nasrani dengan cara yang santun dan argumentatif. Beliau menggunakan logika, bukti, dan pertanyaan yang menggugah untuk membuka hati dan pikiran mereka (Shihab, 2012).
Ketika berdebat dengan kaum musyrik tentang tauhid, Rasulullah menggunakan argumen logis: “Jika ada dua tuhan, pasti akan terjadi perselisihan dan kehancuran di langit dan bumi” (QS. Al-Anbiya: 22).
Memanfaatkan Momentum dan Konteks
Rasulullah sangat cerdas memanfaatkan momentum. Ketika terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj, beliau menceritakannya untuk memperkuat keimanan. Ketika terjadi gerhana matahari, beliau menggunakannya sebagai pelajaran tentang kebesaran Allah (Pasha, 2018).
Kemampuan membaca konteks dan memanfaatkan momentum membuat dakwah lebih efektif dan berkesan.
Mendoakan Mad'u, Bukan Melaknat
Ketika Rasulullah disakiti oleh penduduk Thaif hingga berdarah-darah, malaikat Jibril menawarkan untuk menghancurkan kota tersebut. Namun Rasulullah justru berdoa:
اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Sikap ini menunjukkan bahwa tujuan dakwah adalah hidayah, bukan balas dendam atau pemaksaan (Yusuf, 2016).
KESIMPULAN
Dakwah Rasulullah Muhammad SAW merupakan model sempurna yang menggabungkan antara keimanan yang kuat, strategi yang brilliant, dan akhlak yang mulia. Sepuluh pelajaran di atas—memulai dari keluarga, keteladanan, memahami audiens, berhikmah, istiqamah, mengutamakan akidah, bertahap, berdialog santun, memanfaatkan momentum, dan mendoakan—merupakan prinsip fundamental yang wajib diterapkan oleh setiap da’i.
Di era modern dengan segala kompleksitasnya, metode dakwah Rasulullah tetap relevan dan efektif. Yang diperlukan adalah kreativitas dalam mengadaptasi prinsip-prinsip tersebut dengan konteks zaman, tanpa mengorbankan esensi ajaran. Da’i masa kini harus menguasai ilmu agama yang mendalam, memiliki akhlak yang mulia, dan mampu berkomunikasi dengan bahasa yang dipahami generasi kontemporer.
Wallahu a’lam bis-shawab.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Bukhari, M. ibn I. (1422 H). Sahih Al-Bukhari. Dar Tawq An-Najah.
Al-Ghazali, A. H. (1999). Ihya’ Ulumuddin (Jilid 1-4). Beirut: Dar Al-Fikr.
Al-Mubarakfuri, S. (2001). Ar-Rahiq Al-Makhtum (The sealed nectar). Riyadh: Darussalam Publishers.
Al-Qaradhawi, Y. (2001). Prioritas gerakan Islam. Jakarta: Robbani Press.
Amin, S. M. (2013). Ilmu dakwah. Jakarta: Amzah.
As-Suyuthi, J. (2003). Al-Itqan fi Ulumil Quran. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
Aziz, M. A. (2017). Ilmu dakwah edisi revisi. Jakarta: Kencana.
Ibn Hisham, A. M. (2009). As-Sirah An-Nabawiyyah. Cairo: Dar At-Taqwa.
Ibn Ishaq, M. (2004). Sirat Rasulullah. Karachi: Oxford University Press.
Munir, M. (2009). Metode dakwah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Muslim, ibn H. (n.d.). Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turath Al-Arabi.
Pasha, M. K. (2018). Dakwah kontekstual. Yogyakarta: Deepublish.
Shihab, M. Q. (2012). Tafsir Al-Misbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati.
Suparta, M. (2015). Metode dakwah. Jakarta: Kencana.
Yusuf, A. Y. (2016). Manhaj dakwah dalam Al-Quran. Jakarta: Pustaka Firdaus.


