Penyusun : Ineukeu Lara Duta, S.Pd
Pendahuluan
Pendidikan Al-Qur’an Membangun Rasa Percaya Diri Anak melalui Kegiatan Tasmi’ dan Murajaah. pada anak usia dini tidak hanya bertujuan menghasilkan hafalan, tetapi juga membentuk karakter, emosi, dan kepribadian anak secara menyeluruh. Salah satu karakter penting yang perlu ditumbuhkan sejak dini adalah rasa percaya diri. Percaya diri membantu anak berani tampil, yakin pada kemampuan dirinya, serta memiliki motivasi intrinsik untuk terus belajar. Dalam konteks pendidikan tahfidz Al-Qur’an, kegiatan tasmi’ (memperdengarkan hafalan) dan murajaah (mengulang hafalan) merupakan metode efektif yang tidak hanya memperkuat hafalan, tetapi juga membangun kepercayaan diri anak secara bertahap dan alami.
Sebagai praktisi pengajar tahfidz Al-Qur’an anak usia dini, penulis mengamati bahwa anak yang rutin mengikuti kegiatan tasmi’ dan murajaah menunjukkan peningkatan signifikan dalam keberanian berbicara, stabilitas emosi, dan keyakinan diri. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan penguatan melalui pembiasaan dan pengulangan. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh, Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan kemudahan untuk dihafal dan dipelajari, termasuk oleh anak-anak. Dengan metode yang tepat seperti tasmi’ dan murajaah, proses ini tidak hanya memperkuat memori, tetapi juga membangun kekuatan psikologis anak.
Artikel ini bertujuan menjelaskan bagaimana kegiatan tasmi’ dan murajaah dapat menjadi sarana efektif dalam membangun rasa percaya diri anak usia dini, ditinjau dari perspektif pendidikan Islam, psikologi perkembangan, dan praktik pedagogi tahfidz.
1. Konsep Tasmi’ dan Murajaah dalam Pendidikan Tahfidz Anak
Tasmi’ secara bahasa berarti memperdengarkan. Dalam konteks tahfidz, tasmi’ adalah kegiatan anak memperdengarkan hafalan kepada guru, orang tua, atau audiens tertentu. Sedangkan murajaah adalah proses mengulang hafalan untuk memperkuat memori dan menjaga kualitas hafalan.
Rasulullah ﷺ sendiri melakukan murajaah bersama Malaikat Jibril setiap bulan Ramadhan. Dalam hadis disebutkan:
كَانَ جِبْرِيلُ يُعَارِضُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ سَنَةٍ مَرَّةً
“Jibril mengulang hafalan Al-Qur’an bersama Nabi setiap tahun sekali.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa murajaah merupakan metode utama dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Selain menjaga hafalan, kegiatan memperdengarkan hafalan (tasmi’) melatih keberanian dan kesiapan mental.
Menurut Al-Khuli (1998), pengulangan hafalan secara terstruktur dapat memperkuat memori jangka panjang dan meningkatkan rasa percaya diri individu terhadap kemampuannya.
2. Perspektif Psikologi: Tasmi’ sebagai Latihan Kepercayaan Diri
Percaya diri merupakan bagian penting dari perkembangan sosial-emosional anak. Bandura (1997) menjelaskan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas tertentu. Kepercayaan diri terbentuk melalui pengalaman keberhasilan, penguatan positif, dan dukungan lingkungan.
Kegiatan tasmi’ memberikan pengalaman keberhasilan nyata bagi anak. Ketika anak mampu memperdengarkan hafalannya dan mendapat apresiasi, otaknya membangun asosiasi positif antara usaha dan keberhasilan. Hal ini meningkatkan motivasi intrinsik dan kepercayaan diri.
Penelitian dalam bidang pendidikan anak usia dini menunjukkan bahwa anak yang diberi kesempatan tampil secara rutin menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan regulasi emosi (Harter, 2012).
Dalam praktik tahfidz, tasmi’ memiliki beberapa manfaat psikologis:
- Melatih keberanian tampil di depan orang lain
- Mengurangi rasa takut dan cemas
- Meningkatkan rasa bangga terhadap diri sendiri
- Mengembangkan kemampuan komunikasi verbal
3. Murajaah sebagai Fondasi Stabilitas Emosional dan Mental Anak
Murajaah tidak hanya memperkuat hafalan, tetapi juga memberikan rasa aman psikologis. Anak yang sering mengulang hafalan merasa lebih siap dan yakin saat diminta tasmi’.
Ibnu Jama’ah menjelaskan dalam kitab Tazkirat as-Sami’ wa al-Mutakallim bahwa pengulangan adalah kunci keberhasilan dalam ilmu:
إِنَّ تَكْرَارَ الْعِلْمِ يُثَبِّتُهُ فِي الْقَلْبِ
“Sesungguhnya pengulangan ilmu akan meneguhkannya dalam hati.”
Ketika hafalan kuat, anak merasa lebih percaya diri karena tidak takut salah. Sebaliknya, hafalan yang lemah dapat menimbulkan kecemasan dan mengurangi rasa percaya diri.
Sebagai praktisi, penulis menemukan bahwa anak yang rutin murajaah cenderung:
- Lebih tenang saat tasmi’
- Lebih berani tampil
- Lebih jarang mengalami kecemasan
- Lebih stabil secara emosional
Hal ini menunjukkan bahwa murajaah merupakan fondasi penting dalam membangun kesiapan mental anak.
4. Strategi Praktis Menerapkan Tasmi’ dan Murajaah untuk Membangun Percaya Diri
Berdasarkan pengalaman praktik mengajar tahfidz anak usia dini, berikut strategi efektif:
- Tasmi’ dalam Lingkungan Aman dan Positif
Mulai tasmi’ dalam kelompok kecil sebelum tampil di depan audiens besar. Lingkungan yang aman membantu anak membangun keberanian secara bertahap.
- Memberikan Apresiasi, Bukan Tekanan
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”(HR. Abu Dawud)
Apresiasi meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri anak.
- Konsistensi Murajaah Harian
Murajaah singkat namun konsisten lebih efektif daripada murajaah panjang tetapi jarang.
- Menghindari Kritik yang Melemahkan Mental Anak
Fokus pada perbaikan dengan pendekatan lembut.
- Melibatkan Orang Tua dalam Tasmi’ Rumah
Tasmi’ bersama orang tua memperkuat ikatan emosional dan meningkatkan rasa percaya diri anak.
Kesimpulan
Kegiatan tasmi’ dan murajaah merupakan metode fundamental dalam pendidikan tahfidz Al-Qur’an anak usia dini yang tidak hanya memperkuat hafalan, tetapi juga membangun rasa percaya diri secara signifikan. Tasmi’ melatih keberanian tampil dan meningkatkan keyakinan diri, sedangkan murajaah memberikan stabilitas mental dan kesiapan emosional.
Pendekatan ini selaras dengan ajaran Islam, praktik Rasulullah ﷺ, serta teori psikologi modern tentang pembentukan kepercayaan diri melalui pengalaman keberhasilan dan penguatan positif.
Dengan penerapan tasmi’ dan murajaah secara konsisten, lembut, dan menyenangkan, anak tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, kuat secara mental, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
Daftar Pustaka
Al-Khuli, M. A. (1998). Metode Menghafal Al-Qur’an. Cairo: Dar Al-Fikr.
Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: Freeman.
Harter, S. (2012). The Construction of the Self. New York: Guilford Press.
Ibnu Jama’ah. (2003). Tazkirat as-Sami’ wa al-Mutakallim. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Bukhari, M. I. (2002). Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kemenag RI.


