Penyusun : Rahmawati
Pendahuluan
Ikhlas dalam Pandangan Rasulullah ﷺ: Amal Tanpa Pamrih Dunia. Ikhlas merupakan ruh dari setiap amal perbuatan dalam Islam. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun tidak akan memiliki nilai di sisi Allah SWT. Secara etimologis, ikhlas (إِخْلَاصٌ) berasal dari kata khalasa yang berarti murni, bersih, atau bebas dari campuran (Ibnu Manzhur, 1993). Dalam konteks spiritual, ikhlas berarti memurnikan niat semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan pujian, penghargaan, atau imbalan duniawi dari manusia (As-Sa’di, 2000).
Allah SWT menegaskan pentingnya ikhlas dalam firman-Nya:
Teks Arab:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Transliterasi: Wa mā umirū illā liya’budullāha mukhlishīna lahud-dīna ḥunafā’a wa yuqīmuṣ-ṣalāta wa yu’tuz-zakāta wa dhālika dīnul-qayyimah
Terjemahan: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa ikhlas adalah fondasi utama dari agama yang benar (dīnul-qayyimah). Tanpa ikhlas, ibadah hanyalah gerakan fisik tanpa makna spiritual.
Rasulullah SAW, sebagai teladan sempurna umat Islam, memberikan banyak sabda dan contoh praktis tentang ikhlas. Penelitian oleh Elias (2012) menunjukkan bahwa konsep ikhlas dalam Islam memiliki implikasi psikologis yang mendalam, mampu meningkatkan kesejahteraan mental dengan membebaskan individu dari ketergantungan pada validasi eksternal. Di era media sosial yang penuh dengan culture of showing off, memahami dan mengamalkan ikhlas menjadi semakin urgen.
Artikel ini akan mengupas secara komprehensif konsep ikhlas berdasarkan sabda Rasulullah SAW, tingkatan-tingkatannya, ancaman bagi yang tidak ikhlas, serta panduan praktis untuk melatih ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.
tis, pulvinar dapibus leo.
Definisi Ikhlas dalam Sabda Rasulullah ﷺ
Definisi Ikhlas dalam Sabda Rasulullah ﷺ
Rasulullah SAW mendefinisikan ikhlas dengan sangat jelas dalam berbagai haditsnya. Salah satu hadits paling fundamental adalah:
Teks Arab:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Terjemahan: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini, yang ditempatkan Imam Bukhari di awal Shahih-nya, menunjukkan posisi sentral niat dalam menentukan kualitas amal. Imam An-Nawawi (1996) dalam Al-Arba’īn-nya menyatakan bahwa hadits ini adalah salah satu dari hadits yang menjadi poros agama Islam, karena semua amal lahiriah harus disertai niat yang ikhlas agar diterima Allah.
Ibnu Rajab Al-Hanbali (1998) menjelaskan bahwa kata “إنما” (innamā) dalam hadits ini menunjukkan ḥaṣr (pembatasan), artinya tidak ada nilai amal kecuali dengan niat yang benar. Amal tanpa niat ikhlas adalah seperti tubuh tanpa ruh—tampak hidup namun sebenarnya mati.
Keutamaan Ikhlas dalam Hadits Nabi ﷺ
Rasulullah SAW menegaskan bahwa ikhlas adalah syarat mutlak diterimanya amal. Dalam hadits qudsi yang agung, Allah SWT berfirman:
Teks Arab:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Terjemahan: “Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)
Hadits qudsi ini sangat menakjubkan. Meskipun seseorang melakukan amal yang besar seperti sedekah, jihad, atau dakwah, jika di dalamnya ada unsur riya’ (ingin dipuji manusia) atau sum’ah (ingin didengar orang), maka Allah menolak seluruh amal tersebut. Imam Ibnul Qayyim (1991) menyebutnya sebagai “syirik kecil” (asy-syirkul aṣghar) yang sangat tersembunyi dan berbahaya.
Rasulullah SAW memberikan perumpamaan indah tentang ikhlas:
Teks Arab:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ
Terjemahan: “Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah (jeruk sitrun), baunya harum dan rasanya enak.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ibnu Hajar Al-Asqalani (1379H) menjelaskan bahwa “rasa enak” melambangkan ikhlas yang internal (batin), sementara “bau harum” melambangkan amal saleh yang eksternal (lahir). Keduanya harus ada secara bersamaan: amal saleh yang ikhlas.
Ancaman bagi yang Tidak Ikhlas: Riya' dan Sum'ah
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras tentang bahaya riya’ (berbuat untuk dipuji) dan sum’ah (berbuat untuk didengar/diketahui orang):
Teks Arab:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
Terjemahan: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan untuk kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)
Dalam hadits lain yang lebih mengerikan, Rasulullah SAW menjelaskan nasib tiga golongan yang amalnya sia-sia karena tidak ikhlas:
Teks Arab:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ… وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ… وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ…
Terjemahan (ringkas): “Sesungguhnya orang pertama yang akan dihukum pada hari kiamat adalah: seorang yang mati syahid (namun niatnya agar dikatakan pemberani), seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya (namun niatnya agar dikatakan alim), dan seorang yang Allah luaskan hartanya (namun bersedekah agar dikatakan dermawan).” (HR. Muslim)
Hadits ini sangat mengguncang. Tiga amal yang sangat mulia—jihad, menuntut ilmu, dan bersedekah—menjadi sia-sia bahkan mendatangkan siksa karena tidak ikhlas. Mereka adalah orang pertama yang dilemparkan ke neraka karena melakukan amal besar tanpa ikhlas (An-Nawawi, 1996).
Imam Al-Ghazali (1993) menyebut riya’ sebagai “syirik tersembunyi” (asy-syirkul khafī) yang sangat sulit dideteksi bahkan oleh pelakunya sendiri. Seseorang bisa memulai amal dengan ikhlas, namun di tengah jalan masuk riya’ tanpa disadari.
Tingkatan Ikhlas Menurut Para Ulama
Para ulama membagi ikhlas menjadi beberapa tingkatan berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW:
Tingkat Pertama: Ikhlas karena Takut Neraka dan Ingin Surga
Ini adalah tingkat pemula (‘ibādatul ‘abīd—ibadahnya para hamba). Seseorang beribadah karena takut azab Allah dan mengharapkan surga-Nya. Meskipun masih ada pamrih (akhirat), ini sudah termasuk ikhlas karena orientasinya kepada Allah, bukan kepada makhluk (Ibnu Qayyim, 1991).
Tingkat Kedua: Ikhlas karena Rasa Syukur
Tingkat lebih tinggi adalah beribadah karena rasa syukur atas nikmat Allah (‘ibādatut-tujjār—ibadahnya para pedagang). Mereka beribadah sebagai bentuk terima kasih, bukan semata karena takut atau berharap.
Tingkat Ketiga: Ikhlas karena Cinta kepada Allah
Ini adalah tingkat tertinggi (‘ibādatul aḥrār—ibadahnya orang-orang yang merdeka). Mereka beribadah semata karena cinta kepada Allah dan merasa malu jika tidak beribadah kepada-Nya, tanpa perhitungan surga atau neraka (Al-Ghazali, 1993).
Rasulullah SAW sendiri berada pada tingkat tertinggi ini. Beliau bersabda:
Teks Arab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Terjemahan: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari & Muslim)
Meskipun telah dijamin masuk surga, Rasulullah SAW tetap beribadah hingga kakinya bengkak sebagai ungkapan syukur dan cinta kepada Allah.
Cara Melatih dan Menjaga Ikhlas
Berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW, para ulama merumuskan panduan praktis untuk melatih ikhlas:
- Menyembunyikan Amal Saleh
Rasulullah SAW mengajarkan untuk menyembunyikan amal saleh sebisa mungkin:
Teks Arab:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
Terjemahan (bagian relevan): “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… dan seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dinafkahkan tangan kanannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
- Introspeksi Niat Sebelum, Saat, dan Sesudah Beramal
Imam Al-Muhasibi (1940) menekankan pentingnya muḥāsabatun niyyah (introspeksi niat) dalam tiga fase: sebelum berbuat (untuk memastikan niat murni), saat berbuat (agar tidak masuk riya’), dan setelah berbuat (agar tidak ujub/bangga diri).
- Mengingat Hadits tentang Sia-sianya Amal Tanpa Ikhlas
Sering merenungkan hadits tentang tiga orang pertama yang masuk neraka akan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam menjaga ikhlas.
- Menyadari Bahwa Allah Maha Mengetahui
Teks Arab:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
Terjemahan: “Tidakkah (Allah) Yang menciptakan itu mengetahui (yang kamu sembunyikan); dan Dia Mahahalus, Mahateliti?” (QS. Al-Mulk: 14)
Kesadaran bahwa Allah mengetahui isi hati yang tersembunyi akan mendorong seseorang untuk memurnikan niatnya.
- Berdoa Memohon Ikhlas
Rasulullah SAW sendiri sering berdoa:
Teks Arab:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Terjemahan: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan sesuatu dengan-Mu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
Doa ini mencakup syirik kecil (riya’) yang terkadang tidak kita sadari.
Ikhlas dalam Konteks Era Digital
Di era media sosial, tantangan ikhlas menjadi lebih kompleks. Setiap amal bisa langsung di-posting, di-like, dan dikomentari. Penelitian oleh Newbury dan Kamali (2020) menunjukkan bahwa “performative religiosity” (tampilan keagamaan untuk dipuji) meningkat drastis di kalangan generasi digital.
Para ulama kontemporer seperti Syekh Abdul Aziz ath-Tharifi menekankan bahwa meng-upload amal saleh di media sosial tidak otomatis riya’ jika niatnya untuk inspirasi dan dakwah. Namun, harus sangat hati-hati karena tipis batasnya dengan mencari pujian. Kuncinya adalah introspeksi jujur: “Apakah aku akan tetap melakukan amal ini jika tidak ada yang tahu?”
Buah Manis Ikhlas: Ketenangan Hati dan Pahala Berlipat
Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang ikhlas:
Teks Arab:
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Terjemahan: “Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Hadits ini menunjukkan bahwa ikhlas mendatangkan ketenangan hati (ghinā fī qalbih—merasa cukup dalam hati), meskipun secara materi mungkin sederhana. Ini sejalan dengan penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa intrinsic motivation (motivasi internal) menghasilkan kepuasan lebih tinggi dibanding extrinsic motivation (pujian eksternal) (Ryan & Deci, 2000).
Kesimpulan
Ikhlas adalah jantung dari setiap ibadah dan amal saleh dalam Islam. Rasulullah SAW dengan tegas mengajarkan bahwa amal tanpa ikhlas tidak hanya sia-sia, tetapi bahkan bisa mendatangkan siksa. Hadits tentang tiga golongan pertama yang masuk neraka—mujahid, alim, dan dermawan yang tidak ikhlas—adalah peringatan keras yang harus selalu kita ingat.
Ikhlas bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, tetapi membutuhkan latihan dan perjuangan terus-menerus (mujāhadatun nafs). Tantangan ikhlas di era digital semakin kompleks dengan budaya showing off di media sosial. Namun, prinsip dasarnya tetap sama: memurnikan niat semata-mata karena Allah, bukan untuk mendapat pujian, popularitas, atau pengakuan manusia.
Lima panduan praktis dapat membantu kita menjaga ikhlas: menyembunyikan amal saleh, introspeksi niat secara berkala, merenungkan hadits tentang sia-sianya amal tanpa ikhlas, menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui, dan berdoa memohon ikhlas. Yang terpenting adalah kesadaran bahwa ikhlas adalah anugerah Allah yang harus senantiasa kita pinta dan jaga.
Buah dari ikhlas sangat manis: ketenangan hati yang tidak tergantung pada validasi manusia, pahala yang berlipat ganda, dan yang terpenting, ridha Allah SWT. Marilah kita bercermin pada teladan Rasulullah SAW yang beribadah dengan ikhlas sempurna hingga kaki beliau bengkak, dan mari kita evaluasi: apakah amal-amal kita hari ini telah benar-benar ikhlas karena Allah? Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.
Daftar Pustaka
Al-Asqalani, I. H. (1379H). Fatḥul Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
Al-Ghazali, A. H. (1993). Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Vol. 4). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Muhasibi, H. (1940). Ar-Ri’āyah li Ḥuqūq Allāh. Kairo: Dar al-Kutub al-Hadithah.
An-Nawawi, Y. (1996). Al-Arba’īn an-Nawawiyyah. Damaskus: Dar Ibn Katsir.
As-Sa’di, A. R. (2000). Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Riyadh: Dar as-Salam.
Elias, A. (2012). Ikhlās: The concept of sincerity/intention in Islam and its relevance to the reading of religious texts. Journal of Qur’anic Studies, 14(2), 1-30. https://doi.org/10.3366/jqs.2012.0053
Ibnu Manzhur, M. (1993). Lisān al-‘Arab. Beirut: Dar Sadir.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. (1991). Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na’budu wa Iyyāka Nasta’īn (Vol. 2). Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.
Ibnu Rajab Al-Hanbali, Z. A. (1998). Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Kairo: Dar al-Salam.
Newbury, P., & Kamali, M. H. (2020). Social media and religious identity: Muslim youth navigating piety and performativity online. Journal of Muslim Minority Affairs, 40(1), 142-157. https://doi.org/10.1080/13602004.2020.1731112
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68-78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68



