Strategi Menyampaikan Islam

Dakwah Bil Hikmah: Strategi Menyampaikan Islam dengan Bijaksana

Share Tulisan

Penyusun : Bahrul Ulum. Lc

Pendahuluan

Dakwah Bil Hikmah: Strategi Menyampaikan Islam dengan Bijaksana. Di era digital dan globalisasi saat ini, tantangan dakwah semakin kompleks. Dakwah tidak hanya berhadapan dengan perbedaan pemahaman keagamaan, tetapi juga dengan arus informasi yang sangat masif, pluralitas pemikiran, dan sensitivitas antarbudaya yang tinggi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang dakwah bil hikmah menjadi kebutuhan mendesak bagi para pendakwah kontemporer.

Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim dalam menyebarkan ajaran Islam kepada sesama manusia. Namun, metode penyampaian dakwah yang tidak tepat justru dapat menimbulkan antipati dan penolakan terhadap Islam itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah memberikan panduan fundamental tentang bagaimana seharusnya dakwah dilaksanakan, yakni melalui pendekatan bil hikmah (dengan kebijaksanaan).

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”* (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menjadi landasan teologis bahwa dakwah Islam harus disampaikan dengan pendekatan yang bijaksana, bukan dengan paksaan atau cara-cara yang kasar. Menurut Sayyid Quthb (1996), hikmah dalam ayat ini bermakna “menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan tepat, sesuai dengan kondisi dan situasi mad’u (objek dakwah).”

Konsep Dakwah Bil Hikmah dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadis

Dakwah bil hikmah merujuk pada metode penyampaian ajaran Islam yang mempertimbangkan kondisi psikologis, sosiologis, dan intelektual mad’u. Al-Ghazali (1998) dalam karyanya *Ihya Ulumuddin* menjelaskan bahwa hikmah adalah “pengetahuan tentang kebenaran yang paling sempurna dengan mencapai kebenaran melalui ilmu dan amal.”

Rasulullah ﷺ merupakan teladan sempurna dalam menerapkan dakwah bil hikmah. Beliau menyesuaikan pendekatan dakwah berdasarkan karakter dan latar belakang mad’u. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.”* (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kelembutan dan kebijaksanaan merupakan karakter fundamental yang harus dimiliki seorang pendakwah.

111

Prinsip-Prinsip Dakwah Bil Hikmah

  1. Memahami Kondisi Mad’u

Ath-Thabari (2001) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah pertama dalam berdakwah adalah memahami kondisi objek dakwah. Seorang pendakwah harus mampu mengidentifikasi tingkat pendidikan, latar belakang budaya, kondisi psikologis, dan kebutuhan spiritual mad’u. Pendekatan yang efektif untuk kalangan akademisi tentu berbeda dengan pendekatan untuk masyarakat awam.

  1. Menyampaikan Materi yang Relevan

Al-Qaradhawi (2002) menegaskan pentingnya relevansi materi dakwah dengan konteks kehidupan mad’u. Dakwah tidak boleh terkesan memaksa atau mengabaikan realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Prinsip ini sejalan dengan hadis Rasulullah ﷺ:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari)

  1. Menggunakan Bahasa yang Santun

Kesantunan berbahasa merupakan elemen penting dalam dakwah bil hikmah. Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berbicara dengan lembut kepada Firaun, pemimpin yang zalim:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”  (QS. Thaha: 44)

Jika kepada Firaun saja diperintahkan untuk berkata lembut, maka terhadap orang-orang yang lebih rendah kejahatannya sudah sepatutnya diperlakukan dengan lebih santun lagi (Ibn Katsir, 2000).  Strategi Implementasi Dakwah Bil Hikmah di Era Modern

  1. Pendekatan Personal dan Empatik

Munir dan Wahyu (2009) menekankan pentingnya pendekatan personal dalam dakwah kontemporer. Dakwah yang efektif dimulai dari membangun hubungan emosional dan kepercayaan dengan mad’u. Pendakwah harus menunjukkan empati terhadap permasalahan yang dihadapi mad’u sebelum menyampaikan solusi Islami.

  1. Pemanfaatan Media Digital Secara Bijak

Di era digital, dakwah bil hikmah mencakup kemampuan memanfaatkan media sosial dan platform digital dengan konten yang berkualitas, informatif, dan tidak provokatif (Nasrullah, 2017). Pendakwah modern harus memahami etika bermedia sosial, fact-checking, dan menghindari hoaks atau informasi yang belum terverifikasi.

  1. Dialog Antarbudaya dan Antaragama

Shihab (2007) menjelaskan bahwa dakwah bil hikmah dalam konteks pluralitas memerlukan kemampuan berdialog dengan menghormati perbedaan. Dialog yang konstruktif dapat membuka ruang pemahaman yang lebih baik tentang Islam tanpa menimbulkan konflik atau ketegangan sosial.

  1. Keteladanan (Uswah Hasanah)

Dakwah paling efektif adalah melalui keteladanan. Rasulullah ﷺ adalah *uswatun hasanah* (teladan yang baik) bagi umatnya. Perilaku pendakwah yang mencerminkan nilai-nilai Islam akan lebih berpengaruh daripada sekadar retorika lisan (Aziz, 2004).

download (1)
Tantangan Dakwah Bil Hikmah Kontemporer

Beberapa tantangan yang dihadapi pendakwah modern antara lain: (1) arus informasi yang sangat cepat dan masif yang berpotensi menyebarkan pemahaman Islam yang salah; (2) radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan Islam; (3) Islamofobia dan stereotip negatif tentang Islam di media internasional; (4) sekularisasi dan materialisasi yang menggerus nilai-nilai spiritual; serta (5) fragmentasi pemahaman keagamaan yang menimbulkan perpecahan internal umat (Effendy, 2016).

Menghadapi tantangan tersebut, dakwah bil hikmah menjadi solusi strategis. Pendakwah harus mampu menyajikan wajah Islam yang rahmatan lil alamin—Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan Islam yang eksklusif dan intoleran.

Kesimpulan

Dakwah bil hikmah merupakan metode fundamental dalam menyebarkan ajaran Islam yang telah diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an dan dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ. Konsep ini menekankan pentingnya kebijaksanaan, kelembutan, empati, dan ketepatan strategi dalam menyampaikan pesan-pesan Islam kepada umat manusia.

Implementasi dakwah bil hikmah di era kontemporer memerlukan pemahaman mendalam tentang kondisi mad’u, relevansi materi, kesantunan bahasa, serta pemanfaatan media modern secara bijaksana. Pendakwah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi ajaran Islam yang universal.

Keberhasilan dakwah tidak diukur dari seberapa keras dan garang penyampaiannya, melainkan dari seberapa besar pengaruh positifnya terhadap perubahan perilaku dan pemahaman mad’u terhadap Islam. Sebagaimana Allah SWT berfirman, pendakwah sejati adalah mereka yang menyeru kepada kebaikan dengan cara yang terbaik, sehingga Islam dapat diterima dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, bukan dengan paksaan atau ketakutan.

Dengan menerapkan prinsip dakwah bil hikmah, umat Islam dapat berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, toleran, dan beradab, sekaligus menunjukkan keindahan ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, A. H. (1998). Ihya Ulumuddin (Jilid 1-4). Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Qaradhawi, Y. (2002). Fiqh prioritas: Urutan amal yang terpenting dari yang penting. Jakarta: Robbani Press.

Ath-Thabari, I. J. (2001). Tafsir ath-Thabari (Jilid 1-24). Kairo: Dar Hijr.

Aziz, M. A. (2004). Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Effendy, O. U. (2016). Ilmu komunikasi: Teori dan praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ibn Katsir, I. (2000). Tafsir Ibn Katsir (Jilid 1-10). Riyadh: Darussalam.

Munir, M., & Wahyu, I. (2009). Manajemen dakwah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Nasrullah, R. (2017). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Quthb, S. (1996). Fi zhilalil Qur’an (Tafsir di bawah naungan Al-Qur’an). Jakarta: Gema Insani Press.

Shihab, M. Q. (2007). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir tematik atas pelbagai persoalan umat. Bandung: Mizan Pustaka.


Share Tulisan
Scroll to Top