Penyusun : Ineukeu Lara Duta, S.Pd
Pendahuluan
Mengembangkan Fokus dan Hafalan Anak dengan Teknik Mengulang (Takrir).Pendidikan Al-Qur’an pada anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter, spiritualitas, dan kecerdasan anak. Pada fase usia emas (golden age) yaitu rentang usia 0–6 tahun, kemampuan anak dalam menyerap informasi berada pada titik optimal, terutama melalui pembiasaan dan pengulangan (Suyadi, 2017). Namun demikian, tantangan utama yang sering dihadapi pengajar Al-Qur’an anak usia dini adalah keterbatasan fokus dan daya ingat anak yang masih fluktuatif. Salah satu teknik klasik namun tetap relevan dan efektif dalam pembelajaran hafalan Al-Qur’an adalah teknik mengulang (takrir). Takrir tidak sekadar mengulang
bacaan, melainkan sebuah metode sistematis yang bertujuan menguatkan memori jangka panjang, meningkatkan konsentrasi, dan membangun kedekatan emosional anak dengan Al-Qur’an. Metode ini telah dipraktikkan sejak masa Rasulullah ﷺ dan diwariskan oleh para ulama hingga saat ini. Sebagai praktisi pengajar Al-Qur’an anak usia dini, penerapan teknik takrir perlu disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak agar proses menghafal berlangsung menyenangkan, bermakna, dan berkelanjutan.
1. Konsep Teknik Takrir dalam Pembelajaran Al-Qur’an
Secara bahasa, takrir (ريركتلا) berarti mengulang-ulang sesuatu secara
berkesinambungan. Dalam konteks tahfiz Al-Qur’an, takrir adalah proses
mengulang bacaan ayat atau surat secara konsisten untuk menjaga hafalan agar tetap
kuat dan tidak mudah lupa (Al-Qattan, 2004).
Dalam ilmu psikologi kognitif, pengulangan dikenal sebagai rehearsal, yaitu
strategi penting untuk memperkuat memori jangka panjang (Santrock, 2018). Anak
usia dini secara alami belajar melalui pengulangan suara, gerakan, dan pengalaman.
Oleh karena itu, teknik takrir sangat selaras dengan fitrah belajar anak.
2. Landasan Syar’i Teknik Takrir
Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya kemudahan dan pengulangan dalam
proses belajar dan mengingat:
دَقَ ل َو اَن رَّسَي َنآ رُق لا ل ر ك ذل لَهَ ف ن م ر كَّدُّم
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka
adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”(QS. Al-Qamar: 17)
Ayat ini diulang sebanyak empat kali dalam surah yang sama, menunjukkan
penegasan (takrir) sebagai metode penguatan pesan ilahi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
اوُدَهاَعَت ،َنآ رُق لا ي ذَّ لا َوَ ف ُس فَن دَّمَحُم ، ه دَي ب َوُهَ ل ُّدَشَ أ اًتُّ لَفَت َن م ل ب لإا ي ف اَه لُقُع
“Jagalah Al-Qur’an ini, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di
tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih cepat lepasnya daripada unta dari
ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan urgensi pengulangan terus-menerus agar hafalan
tetap terjaga.
3. Teknik Takrir yang Efektif untuk Anak Usia Dini
Dalam praktik pengajaran Al-Qur’an anak usia dini, teknik takrir perlu dikemas
secara kreatif dan proporsional, antara lain:
a. Takrir Pendengaran (Auditory Repetition)
Anak mendengarkan ayat yang dibacakan guru atau murottal dengan
tartil, kemudian menirukannya secara perlahan.
b. Takrir Visual dan Gerak
Menggabungkan gerakan tangan sederhana, isyarat, atau media gambar
untuk membantu fokus dan pemahaman anak.
c. Takrir Bertahap (Chunking)
Ayat dipecah menjadi potongan pendek sesuai kapasitas anak, kemudian
diulang secara bertahap hingga utuh.
d. Takrir Konsisten namun Singkat
Durasi pendek (5–10 menit) namun rutin setiap hari lebih efektif
dibandingkan durasi panjang namun jarang.
e. Takrir dengan Emosi Positif
Suasana belajar yang menyenangkan, penuh pujian dan kasih sayang akan
memperkuat ikatan emosional anak dengan Al-Qur’an.
4. Dampak Takrir terhadap Fokus dan Hafalan Anak
Penelitian menunjukkan bahwa pengulangan terstruktur mampu meningkatkan
perhatian selektif dan daya ingat kerja anak (Diamond, 2013). Dalam konteks
tahfiz, anak yang dibiasakan takrir sejak dini cenderung memiliki:
a. Fokus belajar lebih stabil
b. Hafalan lebih kuat dan tahan lama
c. Kepercayaan diri saat muroja’ah
d. Kecintaan terhadap Al-Qur’an
Hal ini sejalan dengan pandangan Imam An-Nawawi yang menekankan
pentingnya pengulangan dalam menjaga ilmu dan hafalan.
Kesimpulan
Teknik mengulang (takrir) merupakan metode fundamental dan efektif dalam
mengembangkan fokus serta hafalan Al-Qur’an anak usia dini. Metode ini memiliki
landasan kuat baik secara syar’i, psikologis, maupun pedagogis. Dengan penerapan
yang tepat, kreatif, dan sesuai tahap perkembangan anak, takrir tidak hanya
memperkuat hafalan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an
sejak usia dini.
Bagi pengajar dan orang tua, konsistensi, keteladanan, serta suasana belajar yang
positif menjadi kunci keberhasilan teknik takrir. Dengan demikian, generasi Qur’ani
yang fokus, berakhlak, dan cinta Al-Qur’an dapat dibentuk secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Al-Qattan, M. K. (2004). Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Diamond, A. (2013). Executive functions. Annual Review of Psychology, 64, 135–168.
https://doi.org/10.1146/annurev-psych-113011-143750
Santrock, J. W. (2018). Child Development (14th ed.). New York: McGraw-Hill
Education.
Suyadi. (2017). Psikologi Belajar Pendidikan Anak Usia Dini. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Thauq An-Najah.
Muslim, I. H. (n.d.). Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.



