Penyusun : Reza Taufik Ilham. SPd
Pendahuluan
Perbedaan Nahwu dan shorof. Dalam khazanah keilmuan bahasa Arab, ilmu nahwu dan shorof merupakan dua pilar fundamental yang tidak dapat dipisahkan. Kedua disiplin ini sering disebut sebagai “dua sayap bahasa Arab” yang memungkinkan pembelajar untuk memahami, membaca, dan menggunakan bahasa Al-Qur’an dengan benar (Al-Ghalayini, 2010). Meskipun sering dipelajari secara bersamaan, nahwu dan shorof memiliki objek kajian, fungsi, dan metode yang berbeda namun saling melengkapi.
Para ulama klasik telah merumuskan definisi yang jelas untuk membedakan keduanya. Imam Az-Zamakhsyari dalam kitab “Al-Mufassal” menyatakan bahwa nahwu dan shorof adalah dua disiplin yang berbeda namun sama-sama penting dalam memahami struktur bahasa Arab (Az-Zamakhsyari, 1993). Pemahaman yang tepat tentang perbedaan keduanya akan mempermudah proses pembelajaran dan aplikasi bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memahami teks-teks keagamaan.
Artikel ini akan mengupas secara sistematis pengertian dan fungsi masing-masing ilmu, tujuan pembelajarannya, serta contoh konkret penerapannya dalam kalimat sederhana. Dengan pendekatan akademik namun aplikatif, diharapkan pembaca dapat memperoleh gambaran jelas tentang karakteristik unik setiap disiplin ilmu ini.
Pengertian dan Fungsi Masing-Masing
- Ilmu Nahwu: Definisi dan Fungsinya
Secara etimologis, kata “nahwu” (النَّحْوُ) berarti “arah” atau “tujuan”. Adapun secara terminologis, ilmu nahwu adalah ilmu yang membahas tentang keadaan akhir kata (i’rab dan bina’) dalam susunan kalimat (Ni’mah, 1999). Definisi klasik yang paling masyhur dikemukakan oleh Ibnu al-Hajib:
“عِلْمٌ بِأُصُوْلٍ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ الْكَلِمَاتِ الْعَرَبِيَّةِ مِنْ حَيْثُ الإِعْرَابُ وَالْبِنَاءُ”
“Ilmu tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan kata-kata Arab dari segi i’rab dan bina'” (Al-Asymuny, 1998).
Fungsi utama ilmu nahwu meliputi:
- Menentukan Harakat Akhir Kata: Ilmu nahwu mengatur apakah kata terakhir dibaca dhammah (رَفْعٌ), fathah (نَصْبٌ), kasrah (جَرٌّ), atau sukun (جَزْمٌ) berdasarkan posisinya dalam kalimat (Al-Ghalayini, 2010).
- Memahami Struktur Kalimat: Nahwu membedakan antara jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dan jumlah fi’liyyah (kalimat verbal), serta mengidentifikasi unsur-unsur seperti mubtada’, khabar, fa’il, maf’ul, dan lainnya (Hassan, 1994).
- Menghindari Kesalahan Berbahasa (Lahn): Dengan menguasai nahwu, pembelajar dapat terhindar dari kesalahan pengucapan yang mengubah makna, sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ:
“أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَالْتَمِسُوا غَرَائِبَهُ”
“Berilah i’rab (harakat yang benar) pada Al-Qur’an dan carilah keunikan-keunikannya” (HR. Ibnu Abi Syaibah).
- Menangkap Makna Kontekstual: Perubahan harakat dapat mengubah fungsi kata dalam kalimat, yang pada gilirannya mempengaruhi makna keseluruhan (Madkur, 2006).
- Ilmu Shorof: Definisi dan Fungsinya
Kata “shorof” (الصَّرْفُ) secara bahasa berarti “perubahan” atau “transformasi”. Secara istilah, ilmu shorof adalah ilmu yang membahas perubahan bentuk kata (shighah) dari satu pola ke pola lainnya untuk mendapatkan makna yang dikehendaki (Ni’mah, 1999). Definisi komprehensif dikemukakan oleh Al-Ghalayini:
“عِلْمٌ بِأُصُوْلٍ تُعْرَفُ بِهَا صِيَغُ الْكَلِمَاتِ الْعَرَبِيَّةِ وَأَحْوَالُهَا الَّتِيْ لَيْسَتْ بِإِعْرَابٍ وَلاَ بِنَاءٍ”
“Ilmu tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui bentuk-bentuk kata Arab dan keadaannya yang bukan i’rab dan bukan pula bina'” (Al-Ghalayini, 2010, hal. 7).
Fungsi utama ilmu shorof meliputi:
- Transformasi Kata (Tashrif): Mengubah kata dasar menjadi berbagai bentuk derivasi untuk mengekspresikan makna berbeda. Misalnya, dari akar ك-ت-ب dapat dibentuk: كَتَبَ (menulis), كَاتِبٌ (penulis), مَكْتُوْبٌ (yang ditulis), dan sebagainya (Ibnu Malik, 2000).
- Menentukan Wazan (Pola Kata): Menggunakan mizan shorfi (فَعَلَ) untuk mengidentifikasi pola morfologis kata Arab, yang membantu dalam memahami makna dan fungsi kata (Az-Zanjani, 1999).
- Memahami Derivasi (Isytiqaq): Menjelaskan hubungan etimologis antara kata-kata yang berasal dari akar yang sama, sehingga memperkaya kosakata dan pemahaman makna (Hassan, 1994).
- Menganalisis Perubahan Internal Kata: Membahas fenomena seperti i’lal (perubahan huruf illat), ibdal (penggantian huruf), idgham (penggabungan), dan sebagainya (Ni’mah, 1999).
Perbandingan Fundamental
Perbedaan mendasar antara nahwu dan shorof dapat dirangkum dalam pernyataan klasik:
“النَّحْوُ يَبْحَثُ عَنْ آخِرِ الْكَلِمَةِ، وَالصَّرْفُ يَبْحَثُ عَنْ بِنْيَةِ الْكَلِمَةِ”
“Nahwu membahas akhir kata, sedangkan shorof membahas struktur internal kata” (Al-Hasyimi, 1997).
Jika nahwu berfokus pada sintaksis (hubungan antarkata dalam kalimat), maka shorof berfokus pada morfologi (bentuk dan struktur kata itu sendiri). Keduanya bekerja secara sinergis: shorof menyiapkan kata dengan bentuk yang tepat, kemudian nahwu menempatkannya dalam posisi yang benar dalam kalimat (Dhif, 1986).
Tujuan Pembelajaran Nahwu dan Shorof
- Tujuan Pembelajaran Ilmu Nahwu
Para ulama telah merumuskan tujuan-tujuan spesifik dalam mempelajari ilmu nahwu:
2. Menjaga Kemurnian Al-Qur’an: Tujuan utama adalah memahami kitabullah dengan benar tanpa kesalahan bacaan. Imam Syafi’i menyatakan:
“لاَ يَحِلُّ لأَحَدٍ أَنْ يُفْتِيَ فِيْ دِيْنِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً عَارِفًا بِكِتَابِ اللهِ نَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَمُحْكَمِهِ وَمُتَشَابِهِهِ وَتَأْوِيْلِهِ وَتَنْزِيْلِهِ وَمَكِّيِّهِ وَمَدَنِيِّهِ وَمَا أُرِيْدَ بِهِ”
yang menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an (As-Suyuthi, 1998).
- Memahami Hadits Nabi ﷺ: Banyak hadits yang maknanya bergantung pada i’rab yang tepat, sehingga nahwu menjadi alat untuk memahami sunnah dengan benar (Madkur, 2006).
- Kemampuan Berbicara dan Menulis dengan Benar: Nahwu membekali pembelajar dengan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab standar (fusha) tanpa kesalahan gramatikal (Al-Khuli, 1982).
- Mengembangkan Kemampuan Analitis: Melalui i’rab (analisis gramatikal), pembelajar mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis dalam mengurai struktur bahasa (Hassan, 1994).
- Memahami Perbedaan Makna Akibat Perubahan I’rab: Contoh klasik adalah perbedaan antara “مَا أَحْسَنَ زَيْدًا” (Betapa baiknya Zaid – ta’ajjub) dan “مَا أَحْسَنُ زَيْدٍ” (Tidak ada yang baik dari Zaid – nafy). Perubahan harakat mengubah makna secara radikal (Al-Ghalayini, 2010).
- Tujuan Pembelajaran Ilmu Shorof
Pembelajaran ilmu shorof memiliki tujuan-tujuan spesifik yang berbeda namun komplementer:
- Memahami Makna Derivatif: Shorof memungkinkan pembelajar memahami nuansa makna yang dihasilkan dari perubahan bentuk kata. Misalnya, perbedaan antara فَاعِلٌ (pelaku aktif) dan مَفْعُوْلٌ (objek/yang dikenai) (Ni’mah, 1999).
- Memperluas Kosakata (Mufradat): Dengan menguasai pola-pola tashrif, pembelajar dapat mengidentifikasi dan memahami ribuan kata baru yang berasal dari akar yang sama (Az-Zanjani, 1999).
- Menguasai Aspek Morfologis Al-Qur’an: Banyak ayat Al-Qur’an yang keindahan dan kedalaman maknanya terletak pada pemilihan shighah (bentuk kata) tertentu. Allah SWT berfirman:
“إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ”
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).
Penggunaan shighah مُضَاعَف (نَزَّلْنَا) menunjukkan proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap (Ibnu Asyur, 1984).
- Kemampuan Membentuk Kata Baru: Shorof memberikan kemampuan untuk membentuk kata-kata baru sesuai dengan pola-pola yang ada, yang penting dalam pengembangan terminologi Arab modern (Wafi, 1962).
- Memahami Perubahan Fonologis: Shorof menjelaskan mengapa terjadi perubahan huruf dalam kata-kata tertentu, seperti i’lal pada kata قَالَ yang asalnya قَوَلَ (Al-Hasyimi, 1997).
Hierarki Pembelajaran
Mayoritas ulama sepakat bahwa shorof harus dipelajari sebelum nahwu. Imam Syafi’i menegaskan:
“الصَّرْفُ أُمُّ النَّحْوِ، وَالنَّحْوُ أَبُو الْفِقْهِ”
“Shorof adalah ibu dari nahwu, dan nahwu adalah bapak dari fiqh” (Az-Zanjani, 1999, hal. 5).
Logika ini didasarkan pada prinsip bahwa kita harus mengetahui bentuk kata yang benar (domain shorof) sebelum menempatkannya dalam kalimat (domain nahwu). Namun, dalam praktiknya, pembelajaran keduanya sering dilakukan secara paralel dan integratif (Madkur, 2006).
Contoh Penerapan dalam Kalimat Sederhana
Contoh 1: Kalimat “Pelajar Menulis Pelajaran”
Kalimat Arab: كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ
Analisis Shorof:
- كَتَبَ: Fi’il madhi dari akar ك-ت-ب, wazan فَعَلَ (fa’ala – tsulatsi mujarrad)
- الطَّالِبُ: Isim fa’il dari akar ط-ل-ب, wazan فَاعِلٌ, menunjukkan pelaku (orang yang mencari ilmu)
- الدَّرْسَ: Isim masdar dari akar د-ر-س, wazan فَعْلٌ
Analisis Nahwu:
- كَتَبَ: Fi’il madhi (mabni ‘ala fath)
- الطَّالِبُ: Fa’il (marfu’ dengan dhammah)
- الدَّرْسَ: Maf’ul bih (manshub dengan fathah)
Penjelasan: Shorof mengidentifikasi bentuk dan asal kata, sementara nahwu menentukan fungsi dan harakat akhir setiap kata dalam kalimat (Hassan, 1994).
Contoh 2: Transformasi Makna Melalui Perubahan Shighah
Kalimat Dasar: ضَرَبَ الْمُعَلِّمُ الطَّالِبَ (Guru memukul murid)
Transformasi Shighah:
- ضَرَّبَ الْمُعَلِّمُ الطَّالِبَ (Guru memukul murid berkali-kali – ta’diyah/taktsir)
- تَضَارَبَ الْمُعَلِّمُ وَالطَّالِبُ (Guru dan murid saling memukul – musyarakah)
Analisis Shorof:
- ضَرَبَ: Wazan فَعَلَ (tsulatsi mujarrad) – makna dasar
- ضَرَّبَ: Wazan فَعَّلَ (tsulatsi mazid dengan tasydid ‘ain) – menunjukkan pengulangan atau intensitas
- تَضَارَبَ: Wazan تَفَاعَلَ (tsulatsi mazid) – menunjukkan timbal balik
Analisis Nahwu: Struktur dasar tetap: Fi’il + Fa’il + Maf’ul, namun makna berubah berdasarkan wazan (Ni’mah, 1999).
Contoh 3: Pengaruh I’rab terhadap Makna
Kalimat A: مَا أَحْسَنَ زَيْدًا (Betapa baiknya Zaid!)
Kalimat B: مَا أَحْسَنُ زَيْدٍ (Tidak ada yang lebih baik dari Zaid / Apa yang terbaik dari Zaid?)
Analisis Nahwu:
- Kalimat A: مَا (huruf ta’ajjub), أَحْسَنَ (fi’il ta’ajjub), زَيْدًا (maf’ul bih manshub)
- Kalimat B: مَا (isim istifham atau nafy), أَحْسَنُ (mubtada’ atau khabar), زَيْدٍ (mudhaf ilaih majrur)
Penjelasan: Perubahan harakat akhir mengubah struktur gramatikal dan makna kalimat secara fundamental (Al-Ghalayini, 2010).
Contoh 4: Integrasi Nahwu-Shorof dalam Ayat Al-Qur’an
Ayat: وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ (QS. Luqman: 18)
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong)”
Analisis Shorof:
- تُصَعِّرْ: Fi’il mudhari’ majzum dari akar ص-ع-ر, wazan تُفَعِّلْ (rubba’i mazid), shighah ini menunjukkan pengulangan atau intensitas (melebih-lebihkan perbuatan)
Analisis Nahwu:
- لَا: Huruf nahy (pelarangan)
- تُصَعِّرْ: Fi’il mudhari’ majzum dengan lam nahy (tanda jazm: sukun)
- خَدَّكَ: Maf’ul bih (manshub)
- لِلنَّاسِ: Jar majrur (متعلق بالفعل)
Integrasi Makna: Shorof menunjukkan intensitas sombong melalui wazan تَفْعِيْلٌ, sementara nahwu menegaskan larangan keras melalui lam nahy. Keduanya bekerja sinergis untuk menghasilkan makna yang kuat (Ibnu Asyur, 1984).
Contoh 5: Aplikasi Praktis dalam Kalimat Sederhana
Situasi: Membuat kalimat “Guru-guru mengajarkan pelajaran-pelajaran kepada para pelajar”
Proses Shorof:
- Guru (tunggal): مُعَلِّمٌ (isim fa’il dari ع-ل-م, wazan مُفَعِّلٌ)
- Guru-guru (jamak): مُعَلِّمُوْنَ (jamak mudzakkar salim)
- Mengajarkan: عَلَّمَ (wazan فَعَّلَ – ta’diyah)
- Pelajaran: دَرْسٌ → دُرُوْسٌ (jamak taksir)
- Pelajar: طَالِبٌ → طُلَّابٌ (jamak taksir)
Penerapan Nahwu: عَلَّمَ الْمُعَلِّمُوْنَ الدُّرُوْسَ الطُّلَّابَ
- عَلَّمَ: Fi’il madhi
- الْمُعَلِّمُوْنَ: Fa’il (marfu’ dengan wawu)
- الدُّرُوْسَ: Maf’ul bih pertama (manshub)
- الطُّلَّابَ: Maf’ul bih kedua (manshub)
Kesimpulan Contoh: Shorof menyiapkan bentuk kata yang sesuai dengan makna yang dikehendaki, kemudian nahwu mengatur posisi dan harakat setiap kata untuk membentuk kalimat yang gramatikal dan bermakna (Al-Ghalayini, 2010).
Kesimpulan
Perbedaan antara ilmu nahwu dan shorof terletak pada fokus kajian dan fungsinya. Shorof membahas struktur internal dan transformasi kata (morfologi), sementara nahwu mengatur hubungan antarkata dalam kalimat (sintaksis). Keduanya memiliki tujuan pembelajaran yang spesifik namun saling melengkapi: shorof membekali pembelajar dengan kemampuan memahami dan membentuk kata, sedangkan nahwu memberikan kemampuan menyusun kalimat yang benar dan bermakna.
Dalam praktik pembelajaran bahasa Arab, khususnya untuk memahami Al-Qur’an dan Hadits, penguasaan kedua disiplin ini bersifat mutlak. Pernyataan klasik “الصَّرْفُ أُمُّ النَّحْوِ” (Shorof adalah ibu nahwu) menunjukkan bahwa shorof adalah fondasi yang harus dikuasai sebelum mendalami nahwu, meskipun pembelajaran keduanya dapat dilakukan secara integratif.
Contoh-contoh penerapan menunjukkan bahwa setiap kata dalam kalimat Arab mengandung dua dimensi analisis: dimensi morfologis (shorof) yang menjelaskan bentuk dan derivasinya, serta dimensi sintaksis (nahwu) yang menentukan fungsi dan harakatnya. Pemahaman komprehensif terhadap kedua dimensi ini akan membuka pintu pemahaman mendalam terhadap keindahan dan kedalaman bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.
Bagi pembelajar modern, integrasi teknologi dalam pembelajaran nahwu-shorof dapat mempercepat proses penguasaan, namun fondasi pemahaman tetap harus bersumber pada khazanah ulama klasik yang telah teruji berabad-abad. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien bagi konteks pembelajaran abad ke-21.
Daftar Pustaka
Al-Asymuny, A. M. (1998). Syarh al-Asymuny ‘ala Alfiyah Ibni Malik. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Ghalayini, M. (2010). Jami’ ad-durus al-‘Arabiyyah (Jilid 1-3). Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.
Al-Hasyimi, A. (1997). Al-Qawa’id al-asasiyyah li al-lughah al-‘Arabiyyah. Dar al-Fikr.
Al-Khuli, M. A. (1982). Asalib tadris al-lughah al-‘Arabiyyah. Dar al-Falah.
Az-Zamakhsyari, M. (1993). Al-Mufassal fi ‘ilm al-‘Arabiyyah. Dar al-Jil.
Az-Zanjani, I. A. (1999). At-Tashrif al-‘Izzi. Maktabah ash-Shafa.
As-Suyuthi, J. A. (1998). Al-Itqan fi ‘ulum al-Qur’an. Dar Ibn Katsir.
Dhif, S. (1986). Tajdid an-nahw. Dar al-Ma’arif.
Hassan, A. (1994). An-Nahw al-Wafi (Jilid 1-4). Dar al-Ma’arif.
Ibnu Asyur, M. T. (1984). At-Tahrir wa at-Tanwir (Jilid 1-30). Ad-Dar at-Tunisiyyah.
Ibnu Malik, M. (2000). Matn al-Alfiyyah fi an-nahw wa ash-sharf. Dar at-Tala’i’.
Madkur, I. (2006). Tadris funun al-lughah al-‘Arabiyyah. Dar al-Fikr al-‘Arabi.
Ni’mah, F. (1999). Mulakhkhas qawa’id al-lughah al-‘Arabiyyah. Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyyah.
Wafi, A. A. (1962). Fiqh al-lughah. Dar Nahdhah Mishr.



