Makna Sabar dalam Surah Al-Baqarah Ayat 153: Jalan Tenang di Tengah Ujian

Share Tulisan

Penyusun : Rahmawati

Pendahuluan

Makna Sabar Dalam Qur’an surah Al-Baqarah Ayat 153: Jalan Tenang di Tengah Ujian. Kehidupan manusia adalah perjalanan yang penuh dengan ujian dan cobaan. Setiap individu, tanpa terkecuali, akan menghadapi berbagai tantangan yang menguji ketahanan mental, spiritual, dan emosional mereka. Dalam konteks ini, Allah SWT memberikan panduan yang sangat jelas dalam Al-Quran, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 153, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

  1. Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menjadi fondasi spiritual bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Menurut penelitian Rahman dan Abdullah (2021), konsep sabar dalam Al-Quran merupakan salah satu karakteristik utama yang membedakan mukmin sejati dengan mereka yang lemah iman. Sabar bukan sekadar kemampuan menahan diri dari keluhan, tetapi merupakan sikap proaktif dalam menerima takdir Allah dengan penuh kepasrahan dan optimisme.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam makna sabar dalam perspektif Surah Al-Baqarah ayat 153, mengeksplorasi dimensi spiritual dan praktisnya dalam kehidupan sehari-hari, serta relevansinya dengan tantangan zaman modern. Pemahaman yang komprehensif tentang konsep ini sangat penting, mengingat tingkat stres dan kecemasan masyarakat kontemporer yang terus meningkat (Koenig, 2018).

Makna Etimologis dan Terminologis Sabar

Kata “sabar” (الصَّبْرِ) dalam bahasa Arab berasal dari akar kata sha-ba-ra yang memiliki makna dasar “menahan” atau “mengekang”. Namun, dalam konteks Al-Quran, sabar memiliki dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan:

الصَّبْرُ هُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ وَاللِّسَانِ عَنِ الشَّكْوَى وَالْجَوَارِحِ عَنِ التَّشْوِيشِ

Terjemahan: “Sabar adalah menahan jiwa dari kegelisahan, lisan dari keluhan, dan anggota badan dari kekacauan.” (Al-Ghazali, 1998)

Definisi ini menunjukkan bahwa sabar melibatkan tiga aspek fundamental: mental (jiwa), verbal (lisan), dan fisik (perbuatan). Al-Qurthubi (2006) dalam tafsirnya menambahkan bahwa sabar dalam ayat 153 Al-Baqarah memiliki tiga tingkatan: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menerima takdir Allah.

download

Korelasi Sabar dan Shalat dalam Ayat 153

Yang menarik dari Surah Al-Baqarah ayat 153 adalah penggabungan dua konsep: sabar dan shalat. Ibnu Katsir (2000) menafsirkan bahwa Allah memerintahkan kedua hal ini secara bersamaan karena keduanya saling melengkapi. Shalat adalah manifestasi praktis dari kesabaran spiritual. Ketika seseorang menghadapi cobaan, shalat menjadi media komunikasi langsung dengan Allah, tempat menuangkan keluh kesah, dan mencari kekuatan.

Rasulullah SAW memberikan teladan nyata tentang praktik ini. Diriwayatkan dalam hadist:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلَاةِ

Terjemahan: “Adalah Rasulullah SAW apabila menghadapi suatu urusan yang berat, beliau segera melaksanakan shalat.” (HR. Abu Dawud)

Penelitian modern oleh Ai et al. (2013) menunjukkan bahwa praktik keagamaan, termasuk shalat, memiliki korelasi positif dengan kesehatan mental dan kemampuan mengelola stres. Shalat tidak hanya berfungsi sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai terapi spiritual yang menenangkan jiwa.

Implementasi Sabar dalam Kehidupan Kontemporer

Di era modern yang dipenuhi dengan tekanan pekerjaan, media sosial, dan ekspektasi sosial yang tinggi, konsep sabar menjadi semakin relevan. Menurut studi yang dilakukan oleh Aflakseir dan Coleman (2011), Muslim yang mengimplementasikan konsep sabar dalam kehidupan mereka menunjukkan tingkat resiliensi yang lebih tinggi dalam menghadapi trauma dan kesulitan.

Sabar dalam konteks ayat 153 Al-Baqarah dapat diaplikasikan dalam berbagai situasi:

  1. Sabar dalam menghadapi musibah: Menerima cobaan dengan lapang dada, tidak berputus asa, dan tetap berprasangka baik kepada Allah. Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Sabar ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kamu sukai, dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kamu sukai” (An-Nawawi, 1996).
  2. Sabar dalam mengejar tujuan: Konsisten dalam usaha meskipun hasil belum terlihat. Ini sejalan dengan prinsip growth mindset yang dikembangkan dalam psikologi modern (Dweck, 2006).
  3. Sabar dalam hubungan sosial: Menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan menjaga ikatan silaturahmi meskipun ada perbedaan.
download-1
Janji Allah untuk Orang yang Sabar

Ayat 153 Al-Baqarah ditutup dengan janji yang luar biasa: “إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ” (Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar). Kata “ma’a” (beserta) dalam ayat ini menunjukkan kedekatan, perlindungan, dan pertolongan Allah secara langsung kepada orang yang sabar.

Asy-Syinqithi (1995) dalam Tafsir Adwa’ul Bayan menjelaskan bahwa kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar adalah dalam bentuk pertolongan, bimbingan, kemenangan, dan pahala yang berlimpah. Al-Quran menegaskan keutamaan sabar dalam berbagai ayat lainnya, seperti dalam Surah Az-Zumar ayat 10:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Kesimpulan

Surah Al-Baqarah ayat 153 memberikan formula spiritual yang sempurna dalam menghadapi ujian kehidupan: sabar dan shalat. Sabar bukan sekadar sikap pasif menunggu berlalunya cobaan, tetapi merupakan kekuatan aktif yang melibatkan ketahanan mental, kontrol emosional, dan kepasrahan spiritual kepada Allah SWT.

Kombinasi sabar dan shalat menciptakan keseimbangan antara usaha manusiawi dan tawakal kepada Allah. Shalat menjadi sumber kekuatan spiritual, sementara sabar menjadi benteng mental dalam menghadapi realitas kehidupan. Dengan mengimplementasikan kedua prinsip ini, seorang mukmin dapat menemukan ketenangan di tengah badai kehidupan, sebagaimana dijanjikan Allah bahwa Dia beserta orang-orang yang sabar.

Di era modern yang penuh dengan tantangan psikologis dan spiritual, pemahaman dan pengamalan konsep sabar dalam Al-Baqarah ayat 153 menjadi semakin urgen. Bukan hanya sebagai ajaran agama, tetapi juga sebagai solusi praktis dalam membangun resiliensi mental dan kesehatan spiritual yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Aflakseir, A., & Coleman, P. G. (2011). Initial development of the Iranian Religious Coping Scale. Journal of Muslim Mental Health, 6(1), 44-61. https://doi.org/10.3998/jmmh.10381607.0006.104

Ai, A. L., Wink, P., & Ardelt, M. (2013). Spirituality and aging: Research and implications. Journal of Applied Gerontology, 32(3), 263-287. https://doi.org/10.1177/0733464811415579

Al-Ghazali, A. H. (1998). Ihya Ulumuddin (Jilid 4). Dar al-Minhaj.

Al-Qurthubi, M. I. (2006). Al-Jami’ li Ahkam al-Quran (Tafsir Al-Qurthubi). Muassasah ar-Risalah.

An-Nawawi, Y. S. (1996). Riyadhus Shalihin. Dar al-Fikr.

Asy-Syinqithi, M. A. (1995). Adwa’ul Bayan fi Idhahi al-Quran bi al-Quran. Dar al-Fikr.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Ibnu Katsir, I. (2000). Tafsir al-Quran al-Azhim. Dar Taybah.

Koenig, H. G. (2018). Religion and mental health: Research and clinical applications. Academic Psychiatry, 42(5), 644-647. https://doi.org/10.1007/s40596-018-0955-z

Rahman, M. A., & Abdullah, S. (2021). Patience (sabr) in Islamic psychology: A conceptual framework. Journal of Islamic Studies and Culture, 9(1), 23-35. https://doi.org/10.15640/jisc.v9n1a3


Share Tulisan
Scroll to Top